detikfinance

Kenaikan Harga BBM Sudah Diumumkan, Tapi Angkanya Ternyata Belum Dibahas

Rista Rama Dhany - detikfinance
Rabu, 01/05/2013 16:52 WIB
//images.detik.com/content/2013/05/01/1034/165414_spbukuningan.jpg
Jakarta -Presiden SBY kemarin mengumumkan akan ada kenaikan harga BBM subsidi tahun ini, namun belum ditentukan berapa dan kapan kenaikan harga tersebut dilakukan. Ternyata angka kenaikan harga BBM subsidi baru akan dihitung Jumat pekan ini.

"Jumat baru mau dibahas berapa harga premium dan solarnya, termasuk adanya revisi kuota BBM subsidi," ujar Direktur Pembinaaan Hilir Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Umi Asngadah ketika dihubungi wartawan, Rabu (1/5/2013).

Kata Umi, nanti dalam pengajuan tambahan kuota BBM subsidi, pemerintah akan mengajukan dua skenario kepada DPR.

"Ada dua skenario, skenario pertama kalau harga BBM naik maka tambahan kuota dari 46 juta KL (kiloliter) naik menjadi 48,5 juta KL, dengan kenaikan tersebut orang akan jadi efisien, skenario kedua kalau harga BBM subsidi tidak dinaikan maka kuota BBM subsidinya bisa 50 juta KL," ungkap Umi.

Seperti diketahui, awalnya pemerintah akan memberlakukan harga Rp 6.500/liter untuk mobil pribadi, dan Rp 4.500/liter untuk motor dan angkutan umum. Tapi kebijakan ini dinilai tak praktis. Akhirnya pemerintah pun berubah pikiran untuk menaikkan seluruh harga BBM subsidi, tanpa ada perbedaan antara mobil pribadi dengan motor dan angkutan umum karena masyarakat keberatan soal kebijakan dua harga tersebut.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis mengungkapkan, sikap tidak tegas pemerintah dalam mengambil kebijakan soal BBM subsidi justru menimbulkan kekacauan. Ketika era kepemimpinan Presiden Soeharto, kenaikan harga BBM subsidi diambil dengan sikap yang tegas sehingga tidak banyak menimbulkan gejolak.

"Era Soeharto kenaikan BBM diumumkan setelah Maghrib kemudian berlaku pukul 00.00. Sekarang tidak. Era sekarang ditunda 2-3 bulan, spekulasi menyeruak," tutur Harry.

Dijelaskan Harry, di Daerah Pemilihannya yakni Kepulauan Riau ternyata solar dan premium menghilang dari peredaran. "Karena spekulan terus menahan solar agar nanti jadi naik harga dan banyak peroleh keuntungan sendiri," terangnya.

"Penderitaan rakyat dibuat oleh pemerintah menjadi lebih lama, harga-harga sudah naik, dan akan naik lagi begitu harga BBM naik," imbuh Politisi Golkar ini.
(rrd/dnl)





Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut