Menteri Keuangan Chatib Basri menilai, kondisi ini hanya bersifat sementara. Ke depan, yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat ekonomi Indonesia menjadi stabil dan mampu menahan berbagai gejolak.
Caranya, kata Chatib, hanya satu yaitu dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. "Untuk reformasi selanjutnya menurut saya cuma satu. Naikkan harga BBM. Terserah mau ditaruh berapa," tegas Chatib di kantornya, Jakarta, Rabu (23/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi jika pemerintahan mendatang menerapkan skema subsidi tetap mulai 2015, maka penghematannya dalam setahun bisa mencapai Rp 200 triliun.
"Kenaikan harga itu kalau lebih cepat pasti lebih baik. Dari penghematan itu kan awalnya bisa disalurkan dulu untuk mitigasi," sebut Chatib.
Namun, menaikkan harga BBM bersubsidi tetap harus menunggu saat yang tepat. Ini karena kondisi perekonomian pada 2015 masih menantang.
Charib mencontohkan kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserves/The Fed) akan menaikkan suku bunga mulai tahun depan. Kebijakan ini akan menyebabkan investor global akan kembali ke AS, sehingga arus investasi ke negara-negara berkembang seperti Indonesia bisa berkurang.
"Kita berhadapan dengan dunia nyata di mana masih ada tekanan global, itu fakta," katanya.
(mkl/hds)











































