Di Depan Nakhoda Kapal, Menteri Susi Curhat Diancam Santet

Di Depan Nakhoda Kapal, Menteri Susi Curhat Diancam Santet

- detikFinance
Selasa, 13 Jan 2015 09:37 WIB
Di Depan Nakhoda Kapal, Menteri Susi Curhat Diancam Santet
Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti awal November lalu telah mengeluarkan kebijakan pelarangan penangkapan kepiting yang sedang bertelur. Gara-gara kebijakannya ini, ia mengaku diancam mau disantet oleh seseorang dari Kalimantan.

"Ada yang caci-maki, lalu mau disantet segala. Saya terima SMS dari orang Kalimantan mau santet saya, bahkan katanya 7 turunan karena melarang kepiting bertelur diekspor," ungkap Susi saat rapat koordinasi dengan 338 nakhoda kapal pengawas di Gedung Mina Bahari I, Jakarta, Selasa (13/01/2015).

Menurut Susi, ia punya alasan cukup kuat mengapa melarang penangkapan kepiting bertelur. Bila aksi ini dibiarkan, maka bisa saja kepiting bakal punah karena tidak bisa berkembang biak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anda selamatkan 5.000 ekor dari 1 kepiting yang sedang bertelur. Perbedaan harganya memang 100%. Anda harus jelaskan itu kepada masyarakat. Harga kepiting tidak bertelur Rp 50.000, bertelur Rp 100.000," paparnya.

Kebijakan ini sekaligus sebagai upaya pihaknya menjaga kelestarian kekayaan laut secara berkelanjutan. Di negara lain bahkan pemasukan pendapatan negara dari sektor laut tidak lagi didapat dengan cara menangkap spesies ikan tetapi dengan cara lain seperti penginapan (cottage) dan wisata bawah laut.

"Tetapi kita mesti ajar mereka berhitung. Saya ingin pegawai PSDKP (Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) di daerah siapkan film. Contohnya kebijakan perlindungan 70% coral barrier (terumbu karang) di Australia menghasilkan industri penyelaman US$ 7 miliar/tahun," kata Susi yang mengenakan baju serba merah itu.

(wij/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads