"Soal dolar naik, harusnya jadi kesempatan kita perbaiki apa yang salah. Saya lihat di Rusia, bisa kembangkan pertanian karena ada sanksi. Makanya tidak banyak suplai, mereka kembangkan sendiri, buat produksinya naik," kata Susi di Kantor Kementerian Perikanan dan Kelautan, Jakarta, Sabtu (29/8/2015).
Menurut Susi, meski ada gejolak ekonomi global ditambah sanksi Uni Eropa dan Amerika Serikat, Rusia malah diuntungkan dengan menurunnya angka impor, dan sukses mensubtitusi kebutuhan impornya dengan peningkatan produksi pangan dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat yang teriak-teriak, garam mahal, sapi mahal, ayam mahal. Setop impor, saatnya berpindah ikan, nggak ada kolesterol. Tidak ada ikan bikin darah tinggi. Apalagi ada kenaikan produksi ikan setelah memoratorium dan penindakan illegal fishing," terang Susi.
Susi juga menyebut, pelemahan rupiah tak perlu direspon berlebihan, karena kondisi sulit saat ini lebih karena memburuknya ekonomi global.
"Krisis sekarang juga terjadi di negara lain, ini global, semua negara uangnya ngaruh ke dolar. Juga ada Cina, mereka tergantung sama aktivitas Cina. Makanya wajar ada krisis, malah harusnya jadi kesempatan kita perbaiki. Kalau Rusia saja bisa, kenapa kita tidak," tutupnya.
(rrd/rrd)











































