Tip Menghindari Sekuritas Bodong

Tip Menghindari Sekuritas Bodong

- detikFinance
Rabu, 03 Nov 2010 11:23 WIB
Tip Menghindari Sekuritas Bodong
Jakarta - Neraca - Belajar berinvestasi itu bisa dilakukan lewat beragam cara. Selain dari buku dan berdiskusi dengan Manajer Investasi (MI), penting juga belajar lewat pengalaman orang lain. Kasus kelam yang menimpa Sarijaya, Antaboga, dan sederet sekuritas bodong lainnya, wajib dijadikan pelajaran bagi investor, terutama investor pemula.

Irwan Ariston Napitupulu, seorang praktisi pasar modal mengatakan, investor di pasar modal Indonesia masih belum sepenuhnya dilindungi pemerintah. Namun, bukan berarti hal ini lantas menciutkan nyali Anda. Berinvestasi itu baik dilakukan untuk mengejar inflasi yang setiap tahun selalu melonjak. Di 2010, inflasi berada di kisaran 8,7%. Melihat kenyataan ini, berinvestasi tetaplah menjadi langkah terbaik, terutama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jangka panjang.

Untuk menghindari sekuritas bodong, Irwan bermurah hati memberikan sejumlah kiat untuk mengatasinya. Pertama, pilih sekuritas berplat merah. "Ini bukan maksud untuk berpromosi. Namun, sekuritas milik pemerintah setidaknya lumayan aman karena logika awamnya adalah "masa iya sih, pemerintah mau membawa kabur dana investor,"" katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua, bila mulai mencium gelagat kurang enak dari sekuritas kepercayaan Anda. Lekas ambil tindakan dengan berpindah sekuritas. Jangan biarkan gelagat kurang enak ini berlarut-larut, karena bila sudah tersandung masalah, umumnya penyelesaiannya akan ruwet, apalagi bila sudah bersinggungan dengan polisi. Padahal, hampir semua investor tak ingin yang ribet. Apesnya, penyelesaian kasus sekuritas bodong ini, umumnya juga merogoh kocek investor yang tak sedikit.

Ketiga, untuk menekan aksi pembobolan, simpanlah cash investasi di bank kustodian yang terdaftar di LPS. Langkah Terakhir, miliki kartu AKSes. Pasalnya, kartu AKSes berfungsi untuk memudahkan investor memonitor transaksi dan rekening efeknya secara online. Jadi, mencegah itu selalu lebih baik dari pada mengobati bukan?

(suci)

Sumber: Neraca, 31 Juli 2010, Hal 9.

(adv/adv)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads