Dalam setahun pemerintahannya, Jokowi sebetulnya telah melakukan sejumlah perubahan. Misalnya, mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM), meningkatkan bantuan bagi warga miskin, hingga mengefisienkan perizinan investasi. Tapi perubahan itu tidak serta merta membuat target-target pemerintah tercapai, terutama dalam mendorong pembangunan infrastruktur.
Ini yang jadi persoalan. Perlambatan ekonomi yang dibarengi dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat dunia usaha tertekan. Kondisi ini membuat target penerimaan pajak tidak tercapai. Hingga akhir 2015, penerimaan pajak diperkirakan cuma 87 – 88%. Ini berpengaruh terhadap investasi pemerintah.
Di tengah situasi seperti ini, DBS dalam laporannya yang berjudul “Indonesia What’s Holding Back Growth?” justru menyarankan pemerintah untuk lebih agresif merealisasikan belanja. Pemerintah masih memiliki ruang untuk menaikkan defisit fiskal hingga 2,5% atau sesuai batas undang-undang sebesar 3% karena rasio utang terhadap PDB masih rendah.
Di samping sejumlah tantangan ini, DBS menilai, investor masih melihat prospek jangka panjang ekonomi Indonesia. Ini terlihat dari masih tingginya aliran modal masuk di pasar obligasi. Begitu pula dengan investasi asing langsung (FDI) yang tetap mengalir di tengah kekhawatiran Indonesia akan kembali ke situasi krisis 1997.
Ekonom DBS Group Research – Gundy Cahyadi mengatakan, kondisi Indonesia saat ini jauh dari krisis. Namun, di tengah perlambatan ekonomi ini pemerintah perlu melakukan sejumlah langkah pragmatis supaya tidak semakin tertekan. Terutama dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sambil mengurangi ketergantungan pada sektor komoditas.
Tanda-tanda mulai bergeliatnya perekonomian terlihat dari kinerja selama kuartal III tahun 2015. Belanja pemerintah yang tertahan selama semester I telah meningkat hingga 6,6% (YoY) pada kuartal III atau 2x lebih cepat daripada ekspektasi DBS. Hingga akhir tahun, realisasi anggaran diperkirakan mencapai 80 – 85% dan bisa menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi pada 2016.
Investasi swasta pun membaik, seperti terlihat dalam konsumsi semen yang sepanjang Agustus – September naik 7%. Kenaikan ini menjadi indikasi telah berjalannya proyek-proyek infrastruktur pemerintah. Jika investasi terus meningkat dan kurs rupiah stabil, pertumbuhan ekonomi 2016 diperkirakan akan melaju hingga 5,2%.
(adv/adv)











































