Manufaktur Belum Menjadi Penyelamat

Manufaktur Belum Menjadi Penyelamat

Advertorial - detikFinance
Senin, 04 Jan 2016 00:00 WIB
Manufaktur Belum Menjadi Penyelamat
Suasana aktivitas pabrik perakitan kendaraan milik PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) di Kawasan Industri Suryacipta, Karawang Timur, Jawa Barat. Kredit FOTO: Arief Kamaludin|Katadata
Jakarta - Ekonomi Indonesia sedang bergulat melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap sektor komoditas. Terlebih sejak harga komoditas yang terus turun. Ekspor juga ikut terseret anjlok, sehingga sulit berharap sektor komoditas menjadi mesin penggerak pertumbuhan.

 

Produksi batubara turun dari 165 juta ton pada 2013 menjadi 120 juta ton pada 2014. Beberapa kontraktor besar memberhentikan karyawannya atau memberlakukan cuti dalam beberapa bulan terakhir.

 

Komoditas tak lagi menjadi mesin pendorong ekonomi. Maka pilihannya beralih ke sektor manufaktur yang lebih banyak menyerap tenaga kerja. Namun pengalihan itu ternyata lebih sulit dari yang diharapkan, apalagi pertumbuhan sektor manufaktur menurun dalam beberapa tahun terakhir. Produksi industri hanya tumbuh 5% sejak 2011. Sementara sektor manufaktur saat ini cuma tumbuh 4%, turun dibanding rata-rata 2011-2012 sebesar 6%.

 

Sebagian perlambatan pertumbuhan sektor manufaktur disebabkan oleh melemahnya ekonomi gobal. Kinerja ekspor di sektor ini hanya tumbuh 2% per tahun. Masih hampir sama seperti di negara-negara Asia Tenggara lainnya, tetapi pelemahan di sektor ini sangat jelas terlihat.

 

Indonesia juga harus menghadapi penurunan investasi asing langsung (foreign direct Investment/ FDI) di sektor manufaktur. Investasi pada sektor ini turun, khususnya sektor otomotif. FDI sektor otomotif rata-rata US$ 480 juta per kuartal pada semester I-2015. Angka itu lebih rendah dari rata-rata FDI di sektor itu pada 2012-2014. Penurunan investasi ini menjadi sinyal negatif akan daya saing Indonesia.

 

Satu hal lagi yang penting untuk jadi perhatian, efisiensi produksi Indonesia juga mengalami pemburukan. Salah satu yang dijadikan ukuran efisiensi adalah rasio investasi terhadap kenaikan PDB. Umumnya dikenal sebagai ICOR (incremental capital output ratio).

 

ICOR Indonesia tercatat 6,8 pada 2014, menjadi salah satu yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Ini menunjukkan produksi di Indonesia tidak efisien dibanding negara tetangga seperti Vietnam, Myanmar, dan Filipina. Untuk meningkatkan sektor manufaktur, efisiensi produksi perlu dinaikkan. “Ini jelas perlu perbaikan,” ujar ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi dalam laporan berjudul Indonesia: Manufacturing Still a Drag.

 

DBS sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 bisa mencapai 5,1%, jika laju manufaktur sama seperti tahun 2011. Pada kenyataannya, perkiraan tersebut tidak akan tercapai. Pertumbuhan ekonomi 2015 hanya mencapai 4,7%. Jauh dari target awal pemerintah sebesar 5,8% pada tahun ini dengan anggaran infrastruktur dua kali lipat lebih besar.

 

Salah satu persoalannya adalah realisasi anggaran sangat lambat. Ini memberikan sentimen negatif termasuk terhadap iklim investasi. Menurut Gundy, pemerintah perlu fokus memperbaiki hambatan struktural yang mengganjal pertumbuhan. Kegagalan untuk memperbaiki hal itu pada akhirnya bisa memukul sektor konsumsi, yang selama ini tetap kuat dan menjadi jangkar pertumbuhan PDB.

 

Meski begitu, masih ada harapan bagi Indonesia menggerakkan sektor manufakturnya, terutama di sektor makanan. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sepanjang 2015 minat investasi di sektor ini mencapai Rp 185 triliun. Jumlah itu setara 32% dari keseluruhan rencana investasi di sektor manufaktur pada tahun 2015 sebesar Rp 572,3 triliun. (adv/adv)

Berita Terkait