Tekanan-tekanan tersebut ternyata juga memberi tantangan tersendiri bagi proyek hilirisasi perusahaan-perusahaan tambang dan pengolahan mineral yang dicanangkan oleh pemerintah sejak 2009 lalu. Namun, PT. ANTAM (Persero) Tbk, tetap optimis dan terus melakukan percepatan pembangunan pabrik feronikelnya. "Justru kami ingin membuktikan komitmen pembangunan pabrik feronikel ANTAM akan selesai sesuai target" ujar SVP Corporate Secretary PT. ANTAM (Persero) Tbk , Tri Hartono, Kamis (25/2/2016).
Selain untuk memenuhi program hilirisasi dari pemerintah, pembangunan pabrik feronikel tersebut merupakan upaya yang dilakukan oleh ANTAM untuk mendongkrak kinerja perseroan.
Meski optimis, Tri juga mengakui bahwa tahun lalu memang merupakan titik terendah harga nikel dalam tujuh tahun terakhir. Padahal untuk menyokong pengolahan nikel tanah air pemerintah telah menutup keran ekspor nikel mentah ke luar negeri dengan memasukkan bahan mentah tersebut dalam daftar 12 larangan ekspor.
"Perkembangan seputar bisnis nikel di 2015 memang anomali, setelah aliran keran ekspor bahan mentah nikel Indonesia di-stop oleh pemerintah seharusnya harga nikel naik, ini malah turun" ujar Tri lagi. Selain itu Tri menjelaskan perekonomian dunia yang melambat dan mempengaruhi harga minyak dunia juga berimbas pada operasional industri di berbagai sektor.
Namun demikian menurut Tri, ANTAM tetap mendukung dan mewujudkan hilirisasi melalui penyelesaian Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Halmahera Timur (P3FP) dan Proyek Perluasan Pabrik Feronikel Pomalaa (P3FH). "Saat ini Perseroan tengah melaksanakan proses konstruksinya. Untuk pabrik feronikel di Pomalaa Sulawesi Tenggara sudah hampir rampung, sedangan pabrik feronikel di Halmahera Timur sedang proses tender kontraktor" katanya.
P3FH sudah dimulai sejak 2011 lalu. Saat itu kapasitas produksinya sudah mencapai 40.000 TNi (ton nikel) per tahun. Namun sayang, tahun 2014 lalu, proyek senilai kurang lebih US$1.6 miliar harus terhenti. "Proyek ini akhirnya di-suspend bulan Januari 2014 karena kendala keuangan Perseroan akibat rendahnya harga komoditas serta adanya larangan ekspor yang berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan," ujar Tri.
Namun ia menyampaikan ANTAM tetap optimis bahwa pembangunan smelter P3FH akan segera selesai setelah perusahaan memperoleh dana Rp 3,5 Triliun. "ANTAM mengharapkan proyek P3FH akan selesai pada 2018. Tentu saja membangun pabrik yang tadinya berkapasitas 40.000 TNi menjadi 15.000 TNi harus merubah disain konstruksi. Kami telah menandatangani kesepahaman bersama dengan PT Bukit Asam perihal pasokan tenaga listrik ke P3FH. Overall sedang kita review ulang sekaligus tender kembali kontraktor EPC-nya, sabar saja," tambahnya.
Sementara untuk P3FP, proyek hilirisasi ANTAM di Sulawesi, akan ditambah kapasitas produksinya. Dari yang tadinya 18.000 – 20.000 TNi per tahun, akan diperluas menjadi 27.000 – 30.000 TNi per tahun. "Proyek senilai US$600 juta ini melewati 8 paket konstruksi diantaranya fasilitas Jetty atau pelabuhan, belt conveyor, refining plant-3, ladle furnace, line-4 ore preparation & calcining, electric smelting furnace-4, oxygen plant-5 dan coal power plant" ujar Tri.Ia mengatakan juga saat ini progres EPC sudah mencapai 99,08%. (sfq/sfq)











































