Data yang kami informasikan adalah prediksi hasil upaya khusus (UPSUS) Kementan khususnya tahun 2016. Tepatnya prediksi produksi dan konsumsi bulan April, Mei dan Juni 2016.
Sekali lagi hasil prediksinya adalah produksi beras komulatif bulan April, Mei dan Juni 2016 akan mencapai 19,1 juta ton. Kalau konsumsi nasional 2,5 juta perbulan, maka dapat dipastikan neraca beras nasional pada perioda tersebut akan surplus berkisar 10 juta ton. Sekali lagi kami tidak bicara 2015. Hal ini sekaligus juga untuk memberi gambaran kepada semua pihak yang berkepentingan agar tidak lagi berpikir impor, termasuk Analyst Bank Dunia.
Prediksi produksi diatas bukan propaganda. Prediksi di atas adalah dihitung dari luas pertanaman padi per propinsi yang Kementan monitor perkembangnya harian. Sedangkan stok 2 juta ton beras sampai hari ini adalah hasil kerja bareng Kementan dan Bulog dalam menyerap gabah petani pada harga sesuai HPP. Terkait stok tsb, kami lakukan monitor harian di tiap propinsi. Laporan online juga kami bangun untuk mendapatkan data secepat mungkin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fakta juga menunjukkan bahwa operasi serap gabah petani untuk pengendalian harga wajar sesuai HPP juga berhasil dengan baik. Hal ini ditunjukkan bahwa ternyata beras adalah penyumbang terbesar deflasi akhir akhir ini (silahkan cek pemberitaan).
Kementan jamin tidak akan ada impor dan stok aman. Pihak yang pernah memprediksi impor bakal 2,5 juta ton sudah saatnya mengupdate. Saatnya kita bangkit dan bicara eksport.
Kami sarankan, selanjutnya Analyst lebih cermat membaca dan melakukan analisis berdasarkan informasi dari sumber yang lebih dapat dipercaya. (adv/adv)











































