Membangun Pertanian Berkelanjutan

Membangun Pertanian Berkelanjutan

adv - detikFinance
Senin, 23 Mei 2016 06:26 WIB
Jakarta - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan membangun pertanian adalah sebuah keniscayaan untuk tidak hanya dinikmati generasi saat ini, namun juga untuk didedikasikan bagi generasi yang akan datang. Desain membangun pertanian harus berorientasi jangka panjang, tanpa melupakan penyelesaian jangka pendek.


Warren Buffett,Januari 1991 mengatakan "kita dapat berteduh hari ini, karena ada orang lain yang menanam pohon itu lama sebelumnya". Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan "kita jangan mewariskan impor dan kemiskinan bagi generasi mendatang". Kalimat-kalimat inilah yang menjadi satu inspirasi dalam membangun pertanian secara berkelanjutan.


Dalam membangun pertanian jangka panjang dan berkelanjutan, sudah tidak relevan lagi menggunakan paradigma lama. Pembangunan berbasis pertanian (agricultural led Development) perlu dirubah menjadi berorientasi pada dua paradigma baru yaitu paradigma pertanian untuk pembangunan (agriculture for development) dan paradigma pertanian bio-industri berkelanjutan. Desain pembangunan pertanian jangka panjang ada di dalam dokumen "Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2015-2045" yang dapat diakses pada website www.pertanian.go.id. Sehingga tidak benar pernyataan bahwa Kementan belum memiliki desain jangka panjang.


Sebagai estafet pembangunan pertanian jangka panjang, maka agenda mewujudkan kemandirian ekonomi melalui kedaulatan pangan pada 2015-2019 perlu dilanjutkan pada 2020-2024 dimana Indonesia diprediksi sudah memasuki kelas Upper Middle Income dan pertanian memasuki tahapan menuju industri, sehingga skala prioritasnya adalah melanjutkan membangun infrastruktur, teknologi (riset), peningkatan kapasitas SDM dan pemantapan kelembagaan petani.


Memperhatikan potensi sumberdaya pertanian dan karakteristik archipelago Indonesia, basis strategi dasar membangun pertanian fokus pada komoditas pangan strategis atau unggulan dan fokus pada wilayah/kawasan yang memiliki keunggulan komparatif.Sehingga, strategi, kebijakan, skala prioritas dan tahapan membangun pertanian Indonesia tentunya tidak sama dengan Negara lain.


Menyadari bahwa proses transformasi struktural ekonomi pada masa lalu belum berjalan sesuai harapan, maka era Kabinet Kerja ini dilakukan akselerasi dengan berbagai terobosan baru dan skala prioritas yang berbeda dengan era sebelumnya.


Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menetapkan Rencana Strategis 2015-2019 sebagai bagian dari desain jangka panjang dan menjadi acuan bersama dalam menyusun dan melaksanakan program dan kegiatan tahunan. Mengacu pada Nawacita 2015-2019 agenda ke-7 yaitu Mewujudkan Kemandirian Ekonomi dengan Menggerakkan Sektor-sektor Strategis Ekonomi Domestik, di antaranya menitikberatkan pada upaya mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Mensejahterakan Petani yang bertumpu pada kemampuan dan kekuatan untuk mengatur pangan secara mandiri.

Desain dan Hasil Kebijakan

Sebagai upaya meletakan pondasi kokoh bagi pertanian jangka menengah dan panjang kurun waktu 10-30 tahun ke depan, Mentan Amran mulai 2015 membuat terobosan baru kebijakan. Pertama, membuat regulasi baru dan merevisi regulasi yang menghambat. Kedua, membangun infrastruktur besar-besaran 2,6 juta hektar irigasi tersier. Ketiga, memperbaiki atau optimasi lahan 932 ribu hektar. Empat, mekanisasi dengan bantuan 80.000 alat mesin pertanian (alsintan). Kelima,mendorong investasi dan hilirisasi. Keenam, tata niaga serta ketujuh, mengendalikan impor dan mendorong ekspor.


Kebijakan dan program tidak berhenti di tahun 2015, namun terus dilanjutkan pada 2016 dan selanjutnya sesuai tahapan dan skala prioritas. Skala prioritas 2016 adalah mencetak sawah 200 ribu hektar, mekanisasi dengan lebih dari 100.000 unit alsintan, alih teknologi benih unggul padi 4,5 juta hektar, jagung 1,5 juta hektar dan kedelai 750 ribu hektar dan rehabilitasi irigasi tersier 467 ribu hektar serta impor 25 ribu sapi indukan.

Berbagai kebijakan dan program ini terbukti telah memberikan hasil nyata pada pembangunan pertanian. Hasilnya, pertama, program mempersenjatai petani dengan Alsintan telah mampu menghemat biaya produksi, efisiensi tenaga kerja dan mengurangi lossis. Dampaknya produktivitas padi naik dari 5,14 ton/ha tahun 2014 menjadi 5,34 ton/ha tahun 2015. Produktivitas tenaga kerja juga meningkat seiring dengan mekanisasi pertanian.


Kedua, Mentan Amran memperbaiki unsur pendukung (supporting-system) dan manajemen cara membangun dengan cara penguatan kelembagaan petani, kapasitas SDM dan aparat, kualitas riset dan pemanfaatannya, program dirancang secara sistemik dan masif serta setiap kegiatan dilaksanakan dengan output terukur. Selain itu, melalui pengawalan program ketat melibatkan semua unsur termasuk penegak hukum, pemantauan secara harian/mingguan dan menerapkan sistem reward and punishment.


Dengan berbagai cara ini, hasil yang diperoleh yaitu luas tanam meningkat, teknologi jajar legowo diterapkan, masalah di lapangan langsung diselesaikan, birokrasi transparan, bersih dan melayani petani dan pemalsuan pupuk diproses hukum serta penyelundupan dan impor illegal ditangkap atau dimusnahkan.

Ketiga, pada upaya tata kelola air irigasi, Mentan Amran memegang prinsip "tidak ada air berarti tidak ada kehidupan". Upaya ini terbukti mampu mengatasi lahan mengalami kekeringan. Berdasarkan hasil kunjungan kerja lebih dari 300 kabupaten, dijumpai 4,07 juta ha lahan membutuhkan air.


Untuk menjamin tata kelola air, Mentan membangun sinergisme dengan Menteri PUPR dan Menteri LHK serta menetapkan prioritas 2017-2019 revitalisasi irigasi dan sumber air. Hal ini ditempuh dengan cara membangun atau memperbaiki jaringan irigasi tersier dan pompanisasi 20 ribu unit/tahun untuk melayani air pada sawah 4,76 juta ha. Selain itu, membangun pintu-pintu air di Kalimantan, drainase di lahan rawa lebak Sumatera. Mentan pun membangun embung di lahan tadah hujan, dam-parit, long-storage, sumur dangkal, sehingga mampu melayani 4,07 juta hektar lahan irigasi sederhana, tadah hujan dan irigasi ujung semula ditanami satu kali (IP-100) menjadi minimal dua kali (IP-200).


Tak heran, berkat terobosan baru Mentan dan didukung kerja keras semua pihak, terbukti terjadi peningkatan produksi pangan. El Nino 2015 yang cenderung lebih kuat dari tahun 1997 juga tidak berpengaruh secara signifikan. Yang terjadi malah produksi padi petani meningkat dan tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Data BPS (Angka Sementara 2015), menyebutkan produksi 75,36 juta ton GKG naik 6,37 persen dibandingkan tahun 2014.


Sehingga, setelah sukses melewati El-nino 2015, kini sedang panen raya padi Maret-Mei 2016 dengan menghasilkan produksi 30,9 juta ton gabah kering giling setara 19,5 juta ton beras. Padahal kebutuhan konsumsi beras nasional selama tiga bulan hanya 7,98 juta ton. Hal ini menunjukkan terjadi surplus pasokan beras.


Peningkatan produksi dan produktivitas ini telah dinikmati petani manfaatnya. Ini terbukti dari Usaha pertanian semakin membaik berdasarkan data BPS bahwa Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nasional 2015 sebesar 107,44 naik 1,40 dibandingkan 2014 sebesar 106,04.


Di sisi lain, panen padi melimpah ini berdampak pada perekonomian keseluruhan. Kepala BPS, Suryamin (2/5/2016) pada April 2016 terjadi deflasi sebesar 0,45 persen. Hebatnya, penyumbang terbesar deflasi ini adalah dari kelompok pangan yang mencapai angka 0,94 persen. Kelompok penyumbang berikutnya yakni perumahan dan kesehatan. Deflasi April ini paling tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu sejak tahun 2000.


Keempat, Mentan memberi kemudahan investasi di sektor pertanian dengan cara merevisi regulasi terkait lahan, perijinan dan keringanan pajak. Hasilnya diperoleh komitmen investor dalam negeri dan asing. Yaitu investor pada 15 Pabrik Gula (PG) eksisting komitmen membuka lahan tebu seluas 300 ribu ha, investor 19 PG baru pada lahan 500 ribu ha dan empat investor mengembangkan 500 ribu ha untuk jagung. Selain itu, sembilan investor pengembangan ternak di lahan 1 juta. Realisasi investasi tersebut saat ini adalah PG di Lamongan, PG di Dompu dan investasi ternak sapi di Sumba Timur sudah siap diresmikan pada bulan Juni 2016.


Kelima, Mentan melalukan penanganan tata niaga terkait rantai pasok yang panjang dan gejolak harga pangan. Ini diatasi Mentan dengan resep bisnis yaitu "sedikit kali banyak". Maksudnya sedikit keuntungan dikalikan banyak pembeli dan bukan sebaliknya, sehingga 2016 dibangun minimal 1.000 Toko Tani Indonesia (TTI) dengan membeli langsung ke petani dengan harga wajar dan menjual langsung ke konsumen dengan harga lebih murah. Dengan demikian, dampaknya adalah rantai pasok menjadi lebih pendek. Petani mendapat jaminan pasar dan menikmati harga wajar, pedagang memperoleh normal profit dan konsumen tersenyum.


Keenam, Mentan mengeluarkan kebijakan pengendalian impor dengan cara importasi hanya dilakukan sesuai kebutuhan alias bukan keinginan. Kemudian, mendorong ekspor komoditas kelapa sawit, karet, kakao, kopi, sayur, buah-buahan dan lainnya telah menunjukkan hasil. Sehingga trend impor pangan seperti bawang merah, jagung dan lainnya menurun drastis dan ekspor pangan meningkat.


Dari berbagai capaian kebijakan dan program di atas, kebijakan dan program Kementan 2015 hingga 2019 sudah on the track mengawal proses transformasi struktural ekonomi dengan posisi Indonesia saat ini termasuk dalam kelas lower middle income. Hasil dari investasi infrastruktur seperti membangun irigasi, membangun embung, dam-parit, long-storage, cetak sawah, optimasi lahan, membuka kebun, maupun investasi yang bersifat soft-system, kualitas riset, perbaikan manajemen, revolusi mental aparat dan SDM, penguatan kelembagaan petani dan lainnya, tidak hanya berdampak jangka pendek. Yaitu peningkatan produksi dan pendapatan petani, tetapi juga memperkokoh pondasi pertanian jangka panjang. (adv/adv)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads