Kenaikan harga yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir itu diperkirakan tidak akan berlanjut. Ini lantaran kenaikan harga hanya dipicu kekhawatiran adanya kekurangan pasokan akibat kebijakan pemerintah Tiongkok mengurangi pasokan batu bara sebesar 550 juta ton atau sekitar 15 persen dari total produksi domestik. Kebijakan tersebut memang bertujuan untuk mendorong kenaikan harga dan menyelamatkan produsen batu bara dari kebangkrutan massal.
DBS Group Research percaya harga batu bara masih akan bertahan di level US$ 60-US$ 65 per ton pada semester II-2016. Ini sesuai dengan prediksi harga batu bara rata-rata acuan kami sebesar US$ 55 per ton. Namun, peluang harga untuk naik lebih tinggi lagi akan sangat sulit dalam waktu dekat. Persoalannya permintaan batu bara Tiongkok masih lemah seiring upaya mengurangi polusi udara di kota-kota besar di daerah pesisir.
Perkiraan tersebut didasarkan pada kombinasi sejumlah faktor, seperti rencana Tiongkok mengurangi konsumsi batu bara seiring isu lingkungan. Akan tetapi, rencana pengurangan tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar mengingat setengah dari pembangkit listrik di Tiongkok menggunakan batu bara. Sementara pembangunan pembangkit dari energi alternatif berjalan relatif lambat.
India di sisi lain, diprediksi menjadi salah satu konsumen utama batu bara dunia untuk memenuhi elektrifikasi di dalam negeri. Pembangkit listrik tenaga batu bara dinilai lebih ekonomis dan menguntungkan bagi perekonomian India. Diperkirakan kebutuhan batu bara India akan tumbuh 2,8 persen per tahun.
Sementara penurunan produksi dari produsen utama dunia, yakni Indonesia dan Australia belum cukup mampu untuk mendongkrak harga batu bara global. DBS Group Research mencermati, penurunan produksi sekadar upaya menyesuaikan permintaan yang melemah. Alhasil, perlu penghentian produksi secara bertahap untuk mengurangi kelebihan pasokan batu bara global.
Walaupun tren harga batu bara global sedang rendah, sektor batu bara Indonesia diprediksi masih dapat bertahan. DBS Group Research optimistis, industri batu bara Indonesia mampu bertahan lebih lama dibandingkan di negara lain. Ini disebabkan industri di Tanah Air dapat memangkas biaya per ton, tertolong dari kombinasi rendahnya tarif kontraktor dan bahan bakar.
"Perusahaan penambangan batu bara yang masuk cakupan kami berhasil mempertahankan margin kas yang stabil bahkan meski dihadapkan dengan kecenderungan penurunan harga batu bara," ujar William Simadiputra, Equity Research Analyst DBS Group Research dalam laporan bertajuk "Indonesia Industry Focus: Thermal Coal Sector" edisi Mei 2016.
DBS Group Research mencatat, rata-rata margin kas sejumlah perusahaan pada kuartal I-2016 memang mengalami penurunan dibandingkan kuartal IV-2015, namun tidak signifikan. Kisarannya masih berada di US$ 10 sampai US$ 15 per ton. Adapun produksi batu bara juga mengalami penurunan meski tidak signifikan.
William mengatakan, perusahaan penambangan skala besar besar bisa mengurangi biaya tunai lebih cepat dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil. Selain mempunyai skala ekonomi yang lebih baik dan fleksibilitas operasional, perusahaan besar juga mempunyai daya tawar yang lebih besar dalam negosiasi tarif kontrak penambangan dengan kontraktor pihak ketiga.
Penambang batu bara yang memiliki cukup cadangan juga bisa terus menurunkan strip ratio atau nisbah pengupasan tanpa mengorbankan cadangan batu bara secara signifikan. Sebaliknya, penambang dengan cadangan batu bara terbatas tidak mungkin menahan rendahnya harga dalam jangka panjang. Oleh karenanya penutupan konsensi secara bertahap diperlukan untuk meminimalisasi biaya operasional sebelum margin kas terangkat lagi pada dua kuartal terakhir.
Dengan demikian, penambang Indonesia yang mempunyai ruang gerak untuk efisiensi tidak perlu memangkas produksi atau menurunkan strip ratio. DBS melihat hanya sedikit pasokan yang dipotong pada kuartal I-2016 sementara sebagian besar perusahaan mempertahankan angka produksi selama 2016. (adv/adv)











































