Pernyataan seputar persediaan pangan pastinya sering terngiang di telinga. Apalagi mengingat hasil produksi pangan Indonesia di tahun 2016 sesuai ARAM II BPS di angka 79,1 Juta Ton GKG dari target 76 juta ton dibanding dengan produksi tahun 2014 di angka 70,8 juta ton. Lebih kagetnya lagi, berbagai pengakuan dari Badan Dunia seperti Kepala Perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulders, mengapresiasi peningkatan produksi pangan. Hal tersebut disampaikan ketiga menghadiri Hari Pangan sedunia di Boyolali.
Memang untuk pangan, urusannya tidak semudah yang dipikirkan oleh banyak kalangan. Ketika produksi kurang terjadi hujatan. Harga naik juga ada hujatan. Apalagi jika produksinya kurang, tentu banyak hujatan datang. Namun bila produksi naik dan cukup, tidak ada apresiasi, justru tetap dinilai kurang.
Untuk negara pertanian yang dikomandoi oleh Amran Sulaiman, tentu tidak mudah memutus dan merubahnya. Diperlukan spirit yang tinggi. Bisa dilihat ketika Indonesia menghadapi musim El Nino dan La Nina dua tahun berturut-turut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amran Sulaiman juga mengungkapkan stok pangan nasional terutama beras, saat ini sekitar 2 juta ton. Stok sebesar itu cukup untuk kebutuhan hingga Mei 2017. Pada Maret 2017, Indonesia sudah mulai panen raya lagi sehingga persediaan pangan akan mencukupi. Ini merupakan jaminan buat bangsa kita yang sebelumnya rajin mengimpor dari negara seperti Thailand, Birma.
Hasil yang dicapai tersebut tidak terlepas dari beberapa regulasi yang diubah. "Swasembada pangan bisa dicapai dengan pertanian moder sehingga secara paralel regulasi dan infrastruktur diperbaiki, bekerja keras produksi kita dorong, impor kita kendalikan dan ekspor kita tingkatkan" jelasnya.
Selain itu, pupuk distribusi pupuk saat ini sudah berjalan lancar. Pemerintah juga menindak tegas pelaku yang melakukan pengoplosan pupuk palsu dan merugikan para petani. Mereka ditindak dan dikirim ke penjara. Untuk alat mesin pertanian (Alsintan), pemerintah sudah mengirim ke daerah-daerah sebanyak 160 ribu unit dengan tujuan untuk menurunkan biaya produksi dari Rp2 juta per hektar menjadi Rp1 juta per hektar sehingga masih ada dana yang disimpan untuk petani.
"Tahun lalu beras masih impor, kedelai masih impor, jagung masih impor, buah- buahan masih impor, gula masih impor,dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Saya optimistis, insya Allah kalau semuanya bekerja keras, selesai," ujar Presiden Jokowi saat menyampaikan sambutan pada Puncak Peringatan ke-36 Hari Pangan Sedunia pada Sabtu (29/10) di Boyolali, Jawa Tengah.
Pernyataan Presiden Jokowi sangat mendasar setelah meninjau panen raya padi varietas lnpari 32 di Desa Trayu Kecamatan Banyudono, Boyolali pada puncak HPS 2016. Presiden didampingi Menteri Pertanian - Andi Amran Sulaiman, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi - Eko Putro Sanjoyo, serta Gubernur Jawa Tengah - Ganjar Pranowo.
Varietas lnpari 32 bisa menghasilkan produksi 10 sampai 11 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Presiden Jokowi mengatakan, stok beras nasional pada 2016 meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. Stok beras September hingga Oktober 2015 sebanyak 1.030.000 ton, sedangkan pada periode sama 2016 menjadi 1.980.000 ton. Beras sampai Oktober ini tidak impor dan dipastikan sampai akhir Desember 2016 tidak impor. lmpor jagung tahun ini pun turun 60% dibanding tahun 2015.
Peningkatan produksi bukan mudah dicapai oleh Kementerian Pertanian. Dalam setiap kunjungan kerjanya ke daerah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selalu meminta Kepala Daerah agar meningkatkan produksi pangannya yang juga didukung dengan adanya bantuan pemerintah. Namun, Mentan juga akan menghukumnya apabila gagal, mereka baru dapat bertemu kembali pada tahun berikutnya. "Kami banyak membongkar regulasi, infrastruktur kita juga rusak 3 juta hektar. Presiden minta selesai selama tiga tahun, tapi kami berupaya untuk menyelesaikan target dengan waktu satu tahun," kata Amran.
Mark Smulders, Kepala Perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Indonesia dan Timor- Leste juga mengungkapkan pendapatnya. "Kita harus mengakui bahwa yang namanya perubahan iklim tentu memiliki dampak besar pada keamanan pangan (produksi), sebagian besar dari ratusan juta orang yang menderita kekurangan gizi kronis adalah petani kecil, nelayan, dan peternak," tukasnya.
Banyak kalangan mengatakan bagaimana jadinya nasib pangan kita kalau Indonesia tidak mengalami El Nino. Tahun 2016 pasti Indonesia sudah ekpor beras dalam skala besar. Mentan mengaharapkan semoga iklim tetap bersahabat dengan petani agar produksi tetap terpelihara dan kedaulatan pangan tetap terjaga. (adv/adv)











































