Follow detikFinance
Selasa, 18 Sep 2018 00:00 WIB

Menyeimbangkan Optimisme dan Realita

Advertorial - detikFinance
Foto: DBS Foto: DBS
Jakarta -

Sejumlah faktor diprediksi bakal membuat ekonomi Asia cerah pada 2030. Negara-negara Asia memiliki tingkat populasi yang besar dan berpotensi meraih bonus demografi sehingga meningkatkan jumlah tabungan masyarakat.

Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir basis industri manufaktur Asia telah menancapkan dominasinya di pasar global, serta stabilitas makroekonomi dan laju pembangunan.

Namun di tengah optimisme tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang dapat mempengaruhi ekonomi Asia pada 2030. Ada sejumlah faktor baik di internal masing-masing negara maupun global yang membuat perkembangan ekonomi Asia melemah.

Sejumlah lembaga mengakui terlalu optimistis memprediksi kekuatan ekonomi Asia, tanpa memperhitungkan dampak krisis 2008 yang membatasi perdagangan global. Apalagi China, motor ekonomi Asia, sedang mengalami perlambatan konsumsi.

Di samping itu, yang juga menjadi tantangan perekonomian Asia di masa depan adalah faktor sosial, seperti peningkatan jumlah penduduk tua yang akan menambah beban keuangan negara. Kemudian kerusakan lingkungan, perubahan teknologi dan lemahnya sistem kelembagaan negara yang turut berdampak pada kegiatan investasi.

Dari sisi demografi, misalnya, DBS Group Research melihat China dan Jepang bakal menghadapi ledakan penduduk tua pada 2030. Ini artinya, negara mesti mengeluarkan uang lebih besar untuk pensiun dan jaminan kesehatan.

Di sisi lain, Indonesia, Filipina, dan India justru memiliki jumlah penduduk produktif yang tinggi pada 2030. Angkatan usia produktif Indonesia diprediksi mencapai 68 % dari total populasi, sedangkan angkatan tua (65 tahun ke atas) hanya sekitar 9 %.

Kendati begitu, penduduk muda tidak menjamin pertumbuhan akan langgeng. Sementara usia tua tidak berarti ekonomi akan stagnan.

"Tanpa orang muda yang sehat dan berpendidikan baik, produktivitas suatu negara akan tinggi. Meskipun penduduk negara tersebut tergolong muda," kata Chief Economist DBS Group Research Taimur Baig dalam 'Asia 2030: Balancing optimism with realism' yang dirilis Juli 2018.

"Sebaliknya meskipun berpenduduk tua, tapi dengan kesehatan , keterampilan, dan infrastruktur berkualitas ekonomi tetap akan tumbuh," sambungnya.

DBS Group Research juga melihat ada kesamaan model keberhasilan pembangunan ekonomi Asia. Model yang mengandalkan industri berorientasi ekspor dengan pergerakan buruh yang besar di sektor manufaktur sehingga memungkinkan negara-negara di kawasan ini memperoleh nilai ekonomi signifikan dari dividen demografi.

Model ini terlihat dari pembangunan ekonomi di Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan. Sejumlah negara ASEAN, seperti Malaysia dan Thailand pun mengadopsi model serupa, yang kemudian dikenal sebagai model Angsa Terbang (Flying Geese). Namun model tidak selamanya dapat dipakai, seiring perkembangan ada teknologi yang berpotensi menggeser tenaga buruh dengan mesin.

Saat ini otomatisasi di industri manufaktur, seperti penggunaan robot, kecerdasan buatan, dan internet of things telah berkembang dan mulai menunjukkan dampaknya. Jika tidak dapat mengantisipasinya, negara-negara Asia dapat terjebak dan tidak dapat meningkatkan kualitas ekonominya. Artinya dengan jumlah penduduk yang besar, tantangan pemerintah adalah cara menciptakan lapangan kerja bagi warganya.

Tantangan lain yang juga perlu dibenahi negara-negara Asia adalah faktor institusional. Investor cenderung akan nyaman berinvestasi di negara yang dapat menjamin perlindungan hukum, stabilitas politik, serta bebas korupsi. Dalam Worldwide Governance Indicators 2017 yang dirilis Bank Dunia, kualitas hukum di negara Asia-10 terus meningkat dalam dua dekade terakhir.

Di Indonesia misalnya, telah menunjukkan keberhasilan memperbaiki sejumlah indikator ini. Pasca-krisis 1998, kualitas hukum sempat merosot ke level 20,9 % pada 2003 secara meyakinkan naik menjadi 50 % pada 2016 ke posisi sebelum krisis.

Demikian pula dengan kemampuan pemerintah menekan korupsi dari level 20,5 % pada 2006 ke 42,8 % pada 2016.

"Menurut kami, untuk investasi jangka panjang, faktor-faktor ini lebih diperhitungkan ketimbang proyeksi pertumbuhan ekonomi," kata Taimur Baig.

Klik di sini untuk hasil riset lainnya go.dbs.com/asianinsights.

(adv/adv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed