Melalui sensor yang terdapat di mobil, BMW secara otomatis menghitung durasi sewa dan tagihan yang harus dibayar pelanggan. Begitu selesai, mobil dapat ditaruh di tempat parkir umum mana pun untuk digunakan oleh pelanggan berikutnya.
Sistem layanan ini dimungkinkan dengan adanya ekosistem digital yang dikenal dengan nama Internet of Things (IoT).
"Kemunculan IoT akan mendefinisikan ulang bagaimana bisnis dan industri bekerja," kata analis di DBS Group Research Sachin Mittal, et al. dalam laporannya 'Internet of Things: The Pillar of Artificial Intelligence' yang dirilis Juni 2018.
Bisnis bukan lagi menjual produk atau barang, tapi menjual produk sebagai jasa atau layanan berbasiskan data pengalaman pelanggan (customer experience). Data ini menjadi basis untuk mengembangkan dan meningkatkan layanan seperti yang dilakukan BMW. Model bisnis ini akan menciptakan pendapatan berulang (recurring revenue) dan hubungan yang lebih erat dengan pelanggan dalam jangka panjang.
DBS Group Research meyakini kombinasi sistem IoT dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan mewujudkan 'dunia baru', yakni berkurangnya peran manusia dalam menjalankan kegiatan teknis.
Asia diprediksi menjadi pasar IoT terbesar dunia dalam sepuluh tahun mendatang. Sekitar 36 persen perusahaan di Asia akan mengadopsi IoT dalam operasional bisnisnya di atas rata-rata global 29%. Tak hanya itu, investasi Asia dalam pengembangan kecerdasan buatan mencapai USD 8,3 juta atau 30% lebih tinggi dari rata-rata global USD 5,5 juta.
Pesatnya penggunaan teknologi IoT di Asia turut dipengaruhi oleh urgensi pengembangan infrastruktur dan besarnya populasi milenial yang selalu ingin terhubung dengan teknologi. Di Asia Tenggara, Singapura adalah negara yang paling banyak menerapkan IoT. Sementara tantangan yang dihadapi Indonesia terkait masalah konektivitas dan regulasi.
Klik di sini untuk hasil riset lainnya. (adv/adv)











































