Apa yang akan dilakukan jika pendapatan meningkat, sedangkan waktu senggang lebih panjang? Pilihannya ada dua: berlibur atau belanja. Nah ini kira-kira yang akan dilakukan penduduk Asia dalam satu dekade mendatang.
Kenapa hal ini bisa terjadi? DBS Group Research menyebutkan semakin gencarnya pemanfaatan teknologi dalam dunia usaha, maka produktivitas pekerja di Asia pun meningkat. Ini tidak hanya berdampak pada kenaikan pendapatan penduduk, tapi juga waktu kerja menjadi lebih pendek.
Semakin tinggi pendapatan penduduk, maka jumlah penduduk kelas menengah berpotensi meningkat. Apalagi situasi ini terjadi seiring dengan kesempatan negara-negara Asia memperoleh dividen demografi. Kombinasi penduduk muda dan pertumbuhan kelas menengah menunjukkan kemampuan konsumsi yang meningkat.
"Tapi dampak ekonomi yang lebih luas mencapai US$ 5.343 miliar atau 11,5% terhadap PDB Asia pada 2030," kata Paul Yong, Andy Sim, dan Mavis Hui, analis DBS Group Research dalam laporan berjudul "Live More, Work Less" yang dipublikasikan Juli 2018.
Dari aktivitas pariwisata tersebut, diperkirakan ada lebih dari 255 juta pekerjaan baru tercipta pada 2030. Apalagi Asia masih akan menjadi destinasi favorit wisatawan dunia. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Asia diperkirakan melejit dari 236,8 juta orang pada 2017 menjadi 539,5 juta pada 2030.
Di sisi lain, mayoritas wisatawan Asia pun cenderung memilih negara-negara Asia sebagai tujuan berlibur. Hal ini sangat menguntungkan bagi ekonomi negara tujuan wisata lantaran wisatawan Asia termasuk pembelanja terbesar. Pada 2017, pengeluaran wisatawan Asia mencapai US$ 495,3 miliar dan diprediksi mencapai US$ 974,7 miliar pada 2030.
Cina, India, dan negara-negara ASEAN diperkirakan berkontribusi sebesar 71% dalam pasar wisata Asia. Pada 2017, sektor perjalanan dan pariwisata di tiga wilayah itu menyumbang sebesar US$ 629 miliar. Adapun Cina mendominasi sebesar 46% sekaligus sebagai negara dengan konsumsi wisata terbesar.
Dengan peluang ekonomi yang dapat dihasilkan dari sektor pariwisata, negara-negara di Asia telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang memudahkan kunjungan wisatawan. Salah satunya adalah pelonggaran aturan visa. Wisatawan Cina, misalnya, telah menikmati fasilitas visa kedatangan di 20 negara, termasuk Indonesia.
Pemerintah sejumlah negara Asia juga terpacu dalam membenahi infrastruktur. Hingga Maret 2018, setidaknya ada 229 bandara yang tengah dibangun dan 339 proyek perluasan bandara. Selain itu, sistem transportasi di sejumlah negara juga dibenahi. World Travel & Tourism Council (WTTC) memprediksi nilai investasi yang sudah ditanamkan di sektor perjalanan dan pariwisata di Asia mencapai US$ 336 miliar pada 2017.
"Kami percaya, semua konstruksi skala besar ini akan mendukung pengembangan pariwisata di masing-masing negara dalam jangka panjang," kata DBS Group Research. Untuk hasil riset lebih lanjut kunjungi go.dbs.com/asianinsights (adv/adv)











































