Hal itu dikemukakannya dalam kuliah umum bertemakan 'Bela Negara dan Penguatan Nilai Pancasila' yang diselenggarakan oleh Program Studi dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional President University di President University Convention Center, Cikarang, Jawa Barat Kamis (17/10/2019).
Menurut Mahfud, langkah 'progressive revolutioner' para pemuda untuk mempercepat proklamasi adalah salah satu cara untuk mencegah sistem pemberian kemerdekaan dari Jepang kepada Indonesia. Oleh karena itu, tugas pemuda saat ini adalah menjaga kemerdekaan dengan menumbuhkan sikap nasionalisme dan Bhinneka Tunggal Ika melalui bela negara berdasarkan Pancasila yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dengan geopolitiknya.
"Seringkali bentuk bela negara hanya diartikan secara konvensional dan dikaitkan dengan TNI dan Polri," kata Mahfud.
"Padahal menurut UUD 1945 bela negara mencakup Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) di mana semua warga negara merupakan instrumen dalam membela negara, utamanya mahasiswa yang notabenenya adalah agen perubahan," imbuhnya.
Foto: dok. Jababeka |
Mahfud juga mengatakan kemerdekaan yang dicapai saat ini ada karena Indonesia bersatu.
"Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang merdeka karena masyarakatnya bersatu mengusir penjajah," ungkap Mahfud mengutip pernyataan Chairman & Founder PT Jababeka dan President University S.D. Darmono dalam salah satu bukunya.
Sebagai penutup, Mahfud yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013 ini menekankan peran universitas untuk mencetak sumber daya unggul, menguasai IPTEK, dan siap menghadapi revolusi industri dengan menumbuhkan semangat kehidupan bela negara.
Sebagai informasi, kuliah umum tersebut diselenggarakan oleh Program Studi dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional President University. Selain merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-10 Prodi Hubungan Internasional President University, kuliah umum ini diagendakan sebagai kegiatan tahunan President University di awal masa perkuliahan.
Foto: dok. Jababeka |
Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Program Studi Hubungan Internasional Muhammad A.S. Hikam Ph.D yang juga menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001). Menurut Hikam, tema yang diangkat dalam kuliah umum ini memainkan peranan penting dalam mengokohkan kehidupan dan semangat bela negara utamanya terhadap mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan yang ada di Indonesia saat ini.
Kuliah umum ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden Prof Budi Susilo Soepandji, Sekretaris Yayasan Pendidikan Universitas Presiden Ir Chairy, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2005-2009) H Erman Soeparno, Rektor President University Prof Jony Oktavian Haryanto, serta jajaran civitas akademika President University.
Cek selengkapnya informasi terkait President University di sini.
(adv/adv)













































