Sanitasi Layak Penting untuk Cegah Penyakit Menular hingga Stunting

Advertorial - detikFinance
Selasa, 28 Des 2021 00:00 WIB
adv pupr
Foto: dok. Kementerian PUPR
Jakarta - Isu sanitasi masih menjadi masalah yang membutuhkan perhatian banyak pihak. Bahkan, sanitasi juga menjadi salah satu prioritas utama sebagaimana tercantum dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Diketahui, tujuan ke-6 dalam SDGs ialah memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua.Isu ini tak terbatas pada persoalan akses saja, tapi juga mencakup upaya untuk mencegah masyarakat dari berbagai macam penyakit.

Melansir situs Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), penyediaan dan pengelolaan sanitasi yang baik merupakan tindakan preventif yang harus dilakukan untuk mengurangi penyebaran penyakit menular akibat sanitasi yang buruk.

Sanitasi layak merupakan fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan, antara lain kloset menggunakan leher angsa, tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik, atau sistem pengolahan air limbah ( SPAL)/ Sistem Terpusat.Sanitasi yang layak juga terdiri dari tiga aspek penting, yaitu air limbah domestik, persampahan dan drainase lingkungan.

Sayangnya, hingga saat ini kesadaran masyarakat dan keikutsertaan dalam pengelolaan sarana dan prasarana sanitasi dinilai masih rendah. Belum semua masyarakat menyadari arti penting sanitasi. Terlebih, di wilayah permukiman kumuh yang umumnya dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Sanitasi sering dianggap sebagai urusan belakang, sehingga ditinggalkan untuk mengurus urusan-urusan yang lain. Persepsi yang keliru ini umumnya memandang urusan sanitasi sebagai urusan yang kurang penting untuk diubah. Padahal, semua pihak harus dapat menyadari bahwa masalah sanitasi merupakan urusan yang penting dan cukup vital.

Sanitasi yang buruk dan tidak layak di lingkungan MBR tidak hanya menyebabkan penyakit menular seperti diare atau penyakit kulit saja, namun juga bisa menyebabkan masalah yang lebih besar. Misalnya, masalah stunting.

Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) III Tahun 2021 pada Kamis, (25/11) lalu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menegaskan air minum dan sanitasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya agar dapat menekan angka kemiskinan dan stunting.

adv puprFoto: dok. Kementerian PUPR

Untuk itu, Kementerian PUPR melakukan berbagai upaya demi mewujudkan sanitasi layak di Tanah Air. Salah satunya melalui sosialisasi program Sanitasi Padat Karya Perdesaan (Sandes) yang digencarkan oleh Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR melalui Direktorat Sanitasi di Desa Penosan, Gayo Lues, Aceh.

Diketahui, Desa Penosan terletak di kaki pegunungan Leuser di tanah Gayo yang berjarak 15 km dari ibu kota kabupaten. Desa yang terbagi dalam 5 dusun ini terbilang cukup padat dan dikelilingi area persawahan hijau dengan air mengalir di drainase masih terlihat jernih yang menandakan ketersediaan air bersih berlimpah dan air sumur warga terlihat dangkal.

Namun sayangnya, prasarana dan sarana sanitasi di wilayah ini belum mampu dikatakan layak karena sampah yang belum terkelola sehingga tampak berserakan, air buangan rumah tangga yang langsung dibuang ke lingkungan, baik ke tanah maupun ke selokan, serta sebagian penduduknya masih melakukan BABS di sungai yang melintas di desa tersebut.

Oleh karena itu, Direktorat Sanitasi Kementerian PUPR memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang program Sandes, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pentingnya mengelola air limbah rumah tangga, dan pembelajaran lainnya kepada masyarakat lewat sosialisasi program Sandes. Melalui sosialisasi ini, masyarakat diharapkan dapat menikmati hidup yang sehat dan tercegah dari berbagai risiko penyakit.

Selain itu, masyarakat yang menjadi penerima manfaat dari program ini diharapkan akan mengelola dan memelihara prasarana dan sarana sanitasi yang terbangun.

Sandes mewujudkan kehidupan yang lebih sehat melalui kegiatan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi, berupa bantuan pembangunan bilik toilet dan tangki septik ramah lingkungan. Adapun bantuan ini ditujukan terhadap masyarakat MBR dengan beberapa kriteria yang lebih spesifik untuk memperoleh shortlist penerima manfaat. Diketahui, pendanaan Sandes dapat dialokasikan untuk kebutuhan pelayanan pengelolaan air limbah rumah tangga untuk 50 KK atau setara 250 jiwa.

Itu dia salah satu contoh program sosialisasi dan inisiatif yang dilakukan oleh Direktorat Sanitasi Kementerian PUPR demi mewujudkan sanitasi layak di Tanah Air. Semua itu dilakukan dengan berlandaskan tanggung jawab membangun Indonesia yang lebih baik, sehat, dan sejahtera. (adv/adv)