ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 12 Jun 2019 11:05 WIB

Trump Ngotot Perang Tarif, China: Kami Tidak Takut

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa kemarin menekankan bahwa pengenaan tarif terhadap produk China sebagai bagian dari strategi perdagangannya. Sementara China bersumpah akan mengambil sikap yang keras jika AS bersikeras untuk meningkatkan ketegangan perdagangan di tengah negosiasi yang sedang berlangsung.

Melansir Reuters, Rabu (12/6/2019), AS memulai perang tarif dengan China sejak 2018. Tetapi ketegangan antara Washington dan Beijing meningkat tajam pada Mei 2019 setelah pihak Trump menuduh China mengingkari janji untuk membuat perubahan ekonomi struktural.

"Tarif adalah alat negosiasi yang hebat," cuit Trump melalui akun Twitternya.

Pada hari Senin, dia mengatakan akan menaikkan tarif impor dari Tiongkok lebih tinggi jika dia tidak ada kemajuan dalam pembicaraan perdagangan dengan Presiden China Xi Jinping di KTT G20 akhir bulan ini.


Trump telah berulang kali mengatakan dia siap untuk bertemu Xi Jinping di KTT di Osaka, Jepang, pada akhir Juni, tetapi China belum mengonfirmasi hal itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang tidak tertarik untuk mengkonfirmasi pertemuan Xi-Trump di G20. Pihaknya mengatakan informasi akan dirilis setelah tersedia.

"Tiongkok tidak ingin berperang, tetapi kami tidak takut berperang," katanya.

"Jika Amerika Serikat hanya ingin meningkatkan friksi perdagangan, kami akan dengan tegas menanggapi dan berjuang sampai akhir," tambahnya.

Pekan lalu, Trump mengatakan ia mengambil keputusan setelah G20, acara. Pertemuan para pemimpin ekonomi terbesar dunia. Trump akan melakukan ancaman untuk mengenakan tarif tambahan US$ 300 miliar terhadap barang-barang China.


Trump juga mengancam Meksiko akan mengenakan tarif kecuali pemerintah Meksiko berbuat lebih banyak untuk membendung aliran migran melintasi perbatasan AS-Meksiko.

Washington mendesak Beijing untuk mengatasi tudingan transfer teknologi paksa dan pencurian rahasia dagang AS. Mereka juga ingin membatasi subsidi untuk perusahaan milik China dan akses yang lebih baik untuk perusahaan AS di pasar China.

Pada 10 Mei, Trump menaikkan tarif terhadap US$ 200 miliar barang Tiongkok menjadi 25% dan mengambil langkah untuk memungut bea tambahan UD$ 300 miliar tambahan. Beijing membalas dengan kenaikan tarif pada daftar revisi US$ 60 miliar barang AS.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross pada hari Selasa mengatakan kecil kemungkinan perselisihan itu dapat selesai di KTT G20.

"Di G20, paling-paling itu akan menjadi ... semacam perjanjian tentang jalan ke depan, tapi tentu saja itu tidak akan menjadi perjanjian yang pasti," kata Ross kepada CNBC.

Penasihat ekonomi utama Gedung Putih Larry Kudlow menggemakan sentimen itu dalam wawancara dengan CNBC. Ia berharap kedua presiden akan bertemu di KTT G20 dan dapat meredajan tensi hubungan yang memanas.

Terry Branstad, duta besar AS untuk China, dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence di Washington pada Selasa di tengah negosiasi yang sedang berlangsung.

Pemerintah AS juga membuat marah China dengan menempatkan Huawei Technologies Co Ltd, pembuat peralatan telekomunikasi terbesar di dunia, pada daftar hitam yang secara efektif melarang perusahaan-perusahaan AS melakukan bisnis dengan perusahaan China.

Investor khawatir China akan membalas dengan memasukkan perusahaan AS ke daftar hitam atau melarang ekspor logam tanah jarang ke Amerika Serikat, yang digunakan dalam produk seperti chip memori, baterai isi ulang, dan ponsel.


Indonesia Waspadai Dampak Perang Dagang AS-China!:

[Gambas:Video 20detik]

(das/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com