BI: Tekanan Inflasi Masih Kuat

BI: Tekanan Inflasi Masih Kuat

- detikFinance
Kamis, 04 Sep 2008 12:42 WIB
BI: Tekanan Inflasi Masih Kuat
Jakarta - Bank Indonesia (BI) melihat tekanan inflasi dalam negeri saat ini masih kuat, terutama sebagai akibat dari permintaan agregat yang tumbuh cepat.

"Tekanan dari kenaikan harga energi, pangan dan komoditas di pasar dunia sementara ini mereda, tetap tetap harus diwaspadai," jelas Gubernur BI Boediono dalam siaran pers usai Rapat Dewan Gubernur, Kamis (4/9/2008).

Dengan pertimbangan tekanan inflasi yang masih tinggi inilah, maka RDG BI hari ini memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,25%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan inflasi Agustus mencapai 0,51% atau jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar. Sedangkan inflasi pada tahun kalender pada periode Januari hingga Agustus 2008 tercatat sebesar 9,54 persen sedangkan year on year inflasi atau inflasi periode Agustus 2008 dibanding Agustus 2007 mencapai 11,85 persen.

Dengan memperhitungkan beberapa faktor risiko serta tekanan inflasi yang masih akan timbul, hingga akhir tahun 2008, BI memprakirakan inflasi IHK akan berada pada kisaran 11,5 sampai 12,5 persen year on year.

"Ke depan BI akan senantiasa mengevaluasi stand kebijakan moneter dengan terus mencermati kondisi perekonomian nasional dan global untuk mengamankan sasaran inflasi jangka menengah," ujar Boediono.

BI memandang perlu untuk menjaga dan mengamankan agar permintaan agregat tetap tumbuh dalam jalur yang aman bagi pencapaian sasaran inflasi dan kestabilan ekonomi pada umumnya dalam jangka menengah.

"Untuk mencapai sasaran tersebut, BI akan tetap mengoptimalkan penggunaan seluruh instrumen kebijakan moneter yang tersedia," lanjut Boediono.

Industri perbankan juga diminta berperan dalam menopang stabilitas ekonomi makro dengan tetap memegang prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit yang saat ini tumbuh cukup tinggi.

"Dengan kebijakan yang terpadu, diharapkan inflasi pada tahun 2009 akan dapat dibawa kembali pada kisaran 6,5-7%," tembah Boediono.
(qom/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads