Beberapa proyek yang diteken adalah pendirian pabrik pakaian senilai US$ 5 juta, pembiayaan sumber air panas senilai US$ 70 juta, perjanjian ekspor alat-alat elektronik rumah tangga senilai US$ 30 juta, persetujuan penjualan material dekoratif senilai US$ 10 juta.
Di bidang energi ada juga persetujuan investasi batubara senilai US$ 20 juta dan pembangunan pusat listrik senilai US$ 10 juta, dan perjanjian eksplorasi dan penggunaan sumber daya mineral senilai US$ 8 juta.
Termasuk juga diteken kerjasama untung pengolahan kakao di Sulawesi, pembangunan Hotel bintang lima, dan kerjasama di bidang industri plastik.
Penandatanganan disaksikan Kepala BKPM M Lutfi, Ketua Kadin MS Hidayat, dan beberapa pejabat China di Hotel Sangri-la, Jakarta, Kamis (4/9/2008).
Baik Lutfi maupun Hidayat sepakat, selama ini kerjasama Indonesia dan China terbilang tidak seimbang. Ekspor Indonesia ke China lebih banyak berupa barang mentah, sementara impor Indonesia lebih banyak barang setengah jadi.
"Kita harapkan mereka tidak hanya membeli barang-barang mentah seperti komoditas pertanian, tapi mereka juga kita minta untuk mulai membeli barang-barang olahan. Bahkan kita ajak mereka ikut bangun pabrik pengolahan. Supaya ada nilai tambahnya," ujarnya Hidayat.
Nilai perdagangan Indonesia dan China pada Januari-Maret 2008 mencapai US$ 6,5 miliar. Sementara pada 2007 tercatat sebesar US$ 18,2 miliar atau naik 21,7% dari 2006 yang sebesar US$ 14,9 miliar. (lih/ir)










































