Industri Gula Rafinasi Bingung

Industri Gula Rafinasi Bingung

- detikFinance
Jumat, 05 Sep 2008 11:18 WIB
Industri Gula Rafinasi Bingung
Jakarta - Gula rafinasi dikecam karena merembes ke pasar dan mengganggu gula putih milik petani. Pemerintah pun berniat membatasi ekspansi pabrik gula rafinasi, sehingga para produsen hanya bisa kebingungan.

Kini pemanfaatan kapasitas produksi (utilisasi) industri gula rafinasi kian terpangkas hingga 50%. Padahal untuk bisa memenuhi skala keekonomian, utilisasi industri rafinasi harus mencapai 70%. Kondisi ini merupakan bagian dari tekanan banyak pihak, termasuk pemerintah agar kalangan industri gula rafinasi mengerem produksinya.

Demikian dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Gula Rafinasi (Agri) Melvin Korompis saat dihubungi detikFinance, Jumat (5/9/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada awal tahun 2008 industri gula rafinasi menjalankan utilisasinya hingga 70% sampai 80% dengan kapasitas produksi pada waktu itu mencapai 2,15 juta ton per tahun. Namun hingga kini para produsen gula rafinasi telah mengurangi produksinya sampai 1,2 juta ton saja. Salah satu penyebabnya adalah pengurangan impor raw sugar sebagai bahan baku gula rafinasi.

"Meskipun kita nggak bisa bilang kita terdesak, jatah impor (raw sugar) kita dikurangi 300.000 ton per tahun menjadi hanya setahun 1,2 juta ton saja," katanya

Menurut Melvin, dari lima pabrik gula rafinasi yang berproduksi sekarang ini memiliki kapasitas 2,15 juta ton per tahun. Kemudian dengan berjalannya waktu dan pembatasan impor bahan baku, kalangan industri gula rafinasi secara bertahap sepanjang tahun 2008 menurunkannya menjadi 1,8 juta ton kemudian 1,7 ton lalu diturunkan lagi 1,5 juta ton hingga terakhir hanya mencapai 1,2 juta ton.

"Kita tahu posisi, kita nomor dua setelah gula putih dari para petani domestik. Sekarang ini kita beroperasi 55%kurang, kalau kita tidak hati-hati bisa jeblok, padahal idealnya 70%," keluh Melvin.

Mengenai merembesnya gula rafinasi ke pasar umum, ia sudah berulang kali mengatakan bahwa dari sisi produsen rafinasi sudah mencoba membatasi, namun terkendala pada kontrol dilapangan setelah gula tersebut dibeli oleh distributor dan disalurkan ke agen.

"Sulitnya, gula itu bukan ditangan kita lagi, tapi yang pasti dalam waktu dekat yang beredar dipasar pun akan habis," jelasnya.

Melvin menyadari bahwa industri gula putih petani yang harus menjadi prioritas pemerintah, lalu kemudian industri
industri gula rafinasi yang memberikan nilai tambah dan terakhir impor gula barang jadi.

Menanggapi adanya upaya pemerintah untuk menyetop ekspansi industri gula rafinasi, Melvin mengaku tidak bisa berkata apa-apa. Sekarang ini, lanjut Melvin, sudah ada 3 pabrik baru gula rafinasi yang hampir rampung yaitu di Lampung, Makasar dan Banten.

"Memang Pak Wapres telah meminta untuk menghentikan ekspansi, tapi saya juga tidak tahu bagaimana maunya pemerintah. Sekarang sudah ada dua pabrik baru yang sudah rampung 80% yaitu Makasar dan Lampung. Satunya lagi hanya mencapai 20% di Banten, lanjut atau tidak," ujarnya kebingungan.



(hen/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads