Hal tersebut disampaikan Dirut PT Pertamina Ari H Soemarno usai salat Jumat di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (5/9/2008).
"Tabung pun kita harus impor, karena kapasitas produsen dalam negeri sudah penuh untuk memproduksi tabung elpiji 3 kg," katanya.
Namun Ari belum bersedia menyebutkan kapan pastinya dan berapa tabung yang akan diimpor. "Nanti kita lihat dulu," ujarnya.
Sementara dari sisi gasnya, sebenarnya stok mencukupi. Hanya saja masalah distribusi elpiji rantainya lebih panjang sehingga bisa terjadi keterlambatan.
"Kalau elpiji kan harus masuk refrigerator dulu, lalu diberi tekanan, dari terminalnya dibawa ke stasiun pengisi elpiji, baru dimasukkan ke tabung, dan didistribusikan," jelasnya.
Rantai dan transportasi yang cukup panjang ini membutuhkan biaya dan infrastruktur. Sehingga bagi daerah-daerah yang belum memiliki infrastruktur, beban transportasi harus dibebankan ke konsumen.
"Harga di daerah timur tinggi karena masalah transportasinya. Seperti Nusa Tenggara Timur yang harganya bisa mencapai Rp 150-200 ribu karena tabungnya harus diangkut dari Bali," ujarnya.
(lih/ddn)











































