Beberapa alasan pembatalan tersebut antara lain: bukan warga (0,23%), kartu ganda (0,19%), meninggal dunia (23,83%), pindah alamat (17,11%), tidak layak atau sudah merasa mampu (33,64%), tidak dikenal (6,31%) dan alasan lain-lain (18,7%).
Hal tersebut disampaikan Kepala Satgas BLT Pusat PT Pos Indonesia Ida Bagus dalam jumpa pers mengenai BLT di kantor Depkominfo, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (5/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari angka yang belum tersalurkan tersebut, sebanyak 1.337.569 RTS dinyatakan batal," ujarnya.
Hasil evaluasi pelaksanaan BLT tahap satu menyebutkan dari total 19.018.058 Rumah Tangga Sasaran (RTS), yang sudah tersalurkan sebanyak 15.952.231 RTS. Sisanya sebanyak 3.065.827.000 belum tersalurkan.
Β
"Jadi diluar kartu RTS yang dibatalkan, jumlah yang belum disalurkan sebanyak 1.728.258 RTS. Nilainya sekitar Rp 518,477 miliar atau 9,09% dari total penyaluran BLT I yang sebesar Rp 5,705 triliun," papar Ida.
Sementara dari 1,337 juta kartu RTS yang dibatalkan di atas, menurut Direktur Metodologi Badan Pusat Statistik (BPS), Hamonangan Ritonga sebanyak 1.088.874 kartu RTS saat ini sedang dalam proses verifikasi ulang kartu RTS pengganti.
"Saat ini baru sekitar 114.128 kartu RTS yang sudah diverifikasi," ujar Ritonga.
Oleh karena masih ada beberapa penundaan dalam pelaksanaan BLT tahap satu, sebagaimana dinyatakan Ritonga di atas, pelaksanaan BLT tahap dua akan dilakukan pada kartu-kartu RTS yang sudah lolos verifikasi dan sudah menerima penyaluran dana pada pelaksanaan BLT tahap satu.
"Sisanya akan sedikit tertunda. Tapi setelah verifikasi selesai, tetap akan disalurkan. Kalau memang ternyata sudah selesai bersamaan dengan pelaksanaan BLT II, maka RTS yang belum menerima BLT I akan menerima sekaligus BLT I dan BLT II," ujarnya. (dro/ddn)











































