"Memang produksi kita turun 6,1 persen di 2009, 80 ladang Chevron itu ladang buang, jadi memang tidak bisa diharapkan kenaikannya. Kita sudah melakukan segala macam, tapi tatarannya sudah declined, jadi memang tidak bisa naik lagi," ujar Dirut PT Chevron Pacific Indonesia Suwito Anggoro dalam rapat dengan panitia anggaran DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/9/2008).
Yang bisa menaikkan produksi itu hanya ladang baru saja, sementara Chevron memproduksi minyak di ladang lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi memang maaf saja kami memang sudah bekerja keras tapi memang tidak bisa untuk menaikkan lifting," ujarnya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengatakan setiap angka 10.000 bph lifting meleset, maka biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 3 triliun pada harga ICP 100 dolar.
"Jadi kalau misalkan melesetnya 100.000 barel ya tinggal dikalikan 10, nah dengan penurunan produksi berdasarkan paparan kontraktor kita akan mengatasi kendala yang diatasi kontraktor saat ini," ujarnya.
Dirjen Migas Evita Legowo menambahkan memang sulit untuk menaikkan lifting minyak pada 2009 yang ditargetkan sebesar 950.000 barel per hari.
(ddn/ir)











































