Setangguh Apa Harga LNG Tangguh?

Setangguh Apa Harga LNG Tangguh?

- detikFinance
Selasa, 09 Sep 2008 13:46 WIB
Setangguh Apa Harga LNG Tangguh?
Jakarta - Kisruh murahnya harga LNG Tangguh kian memanas, meski kini produksinya saja belum ada. Bagaimana sebenarnya formulasi harga LNG Tangguh yang selama ini dituding aneh dan merugikan negara itu?

Sebagai sebuah proyek migas, proyek LNG Tangguh cukup vital. Dengan pengembangan LNG ketiga di Indonesia setelah Arun dan Badak itu, LNG Tangguh diharapkan bisa menyumbangkan keuntungan maksimal bagi negara.

Lapangan gas Tangguh yang terletak di Teluk Bintuni, Papua ini diharapkan bisa mulai berproduksi akhir 2008. Rencananya, pada tahapan pertama akan dibangun 2 train kilang pengolahan LNG yang bisa memproduksi setidaknya 7,6 juta metrik ton per tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan situs BP Indonesia, LNG Tangguh sudah mendapat kontrak jangka panjang untuk 4 pembeli, yaitu pembeli di Fujian (China), K-Power Co. Ltd (Korea), POSCO (Korea) dan Sempra Energy LNG Marketing Corp (Meksiko). Rencananya, pengiriman perdana LNG akan dilakukan ke pembeli di Fujian, China pada awal 2009.

Namun belum juga berproduksi, LNG Tangguh sudah membuat heboh. Gara-garanya adalah pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyatakan kontrak ekspor LNG Tangguh ke China itu bisa merugikan Indonesia hingga Rp 750 triliun atau sekitar 3/4 dari anggaran belanja di RAPBN 2009.

Apa benar harga LNG Tangguh sedemikian merugikan?

Harga LNG Tangguh memang terbilang unik. Lihat saja dari formula yang digunakan untuk menentukan harga LNG-nya. Pada tahun 2002 saat kontrak diteken, harga LNG Tangguh dikaitkan dengan patokan harga minyak JCC (Japan Crude Cocktail). Namun patokan harga minyaknya ini diberi batas bawah dan batas atas. Batas bawahnya adalah US$ 15 per barel dan batas atasnya adalah US$ 25 per barel.

Jadi, jika harga minyak turun dibawah US$ 15 per barel, maka pembeli China tetap harus membayar harga LNG seperti harga minyak US$ 15 per barel. Demikian juga jika harga minyak patokannya melonjak di atas US$ 25 per barel seperti halnya sekarang, maka China tetap hanya membayar LNG seperti harga minyak masih US$ 25 per barel.

Pada tahun 2006, pemerintah menegosiasi ulang formula harga tersebut dan berhasil mendapat kenaikan batas atas dari US$ 25 per barel menjadi US$ 38 per barel. Jika dibandingkan dengan harga minyak dunia saat itu yang sekitar US$ 60 per barel, maka patokan batas atas LNG Tangguh sekitar 2/3 dari harga minyak.

Bandingkan dengan formula harga LNG Badak dan Arun yang sama-sama menggunakan patokan harga minyak. Bedanya, baik formula harga LNG Badak dan Arun tidak menggunakan batas atas patokan harga minya. Sehingga berapapun harga minyak melambung, maka harga LNG-nya juga akan terus naik.

Tak hanya soal batas atas patokan harga minyaknya, formula LNG Tangguh ternyata juga berbeda karena koefisien pengali yang lebih rendah dari proyek LNG di Indonesia lainnya. Pengamat Ekonomi Fadhil Hasan menjelaskan formula harga ketiga LNG tersebut.

Formula harga LNG Badak, menurut Fadhil, adalah 15% x harga minyak + 1,5%. Sebagai catatan, tidak ada pembatasan harga minyak yang digunakan sebagai patokan. Dengan rumus tersebut, jika dimasukkan harga minyak US$ 120 per barel, maka diperoleh harga LNG Badak sekitar US$ 19,8/mmbtu.

Untuk formula harga LNG Arun adalah 7% x harga minyak + 1,5%. LNG Arun juga tidak menggunakan batas atas patokan harga minyak. Dengan rumus tersebut, jika dimasukkan harga minyak US$ 120 per barel, maka diperoleh harga LNG Arun sekitar US$ 10,2/mmbtu.

Sementara formula harga LNG Tangguh adalah 5% x harga minyak + 1,5%. Perlu digarisbawahi, harga minyak patokan LNG Tangguh dibatasi maksimal US$ 38 per barel. Sehingga, jika harga US$ 38 per barel dimasukkan ke rumus tersebut, maka harga LNG yang didapat sekitar US$ 2,47/mmbtu.

Rumus diatas merupakan penyederhanaan dari formula sebenarnya.

Dengan melihat ketiga hasil di atas jelas terlihat perbedaan harga antara ketiga LNG tersebut. Bukan hanya soal batasan atas patokan harga minyak, tapi juga koefisien pengalinya. Koefisien pengali LNG Badak adalah 15%, LNG Arun adalah 7%, sementara LNG Tangguh hanya 5%.

Batasan atas patokan harga minyak dan koefisien pengali inilah yang merupakan biang keladi rendahnya harga LNG Tangguh yang akan diekspor ke China.

Alasan pemerintah mendapatkan formula LNG Tangguh yang jauh dibawah dua LNG lainnya adalah karena pada saat kontrak diteken, kondisi pasarnya cenderung buyer's market dimana pembeli LNG lebih banyak dari penjual. Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro (yang juga menjabat posisi yang sama saat itu) kerap menyatakan, dengan kondisi yang buyer's market, harga LNG pada saat itu lebih cenderung ditentukan oleh pembeli.

Baginya, tidak banyak pilihan bagi pemerintah saat itu untuk menjual LNG Tangguh yang sudah 20 tahun coba dikembangkan. Apalagi proyek LNG tidak bisa dimulai jika belum mendapat kepastian pembeli.

"Tangguh itu sudah 20 tahun tidak pernah laku waktu itu. Dan sudah dinyatakan sebagai satu proyek nasional waktu itu, sebagai sentral LNG ketiga oleh pemerintah waktu itu," ujar Purnomo, Kamis (4/9/2008).

Namun menurut pengamat perminyakan Kurtubi, alasan tersebut tidaklah masuk akal. Tim yang terlibat negosiasi pada saat itu adalah pakar orang-orang yang sudah berpengalaman. Sehingga sangatlah janggal jika mereka bisa menyepakati patokan harga minyak yang bahkan lebih rendah dari harga saat itu. Apalagi trend harga minyak selalu menunjukkan kenaikan, bukannya penurunan.

"Memang betul saat itu harganya sedang turun, tetapi kalau dilihat dari sebelumnya, harga LNG sempat turun 4 kali. Dan setiap anjlok, tahun berikutnya pasti naik. Pada 2002 (ketika kontrak ke China diteken), betul saja. Setelah turun harga LNG naik," ujarnya pada suatu diskusi di Gedung MPR/DPR, Selasa (2/9/2008).

Nasi memang sudah menjadi bubur, kontrak sudah diteken. Namun pemerintah tak mau menanggung kerugian hingga 20 tahun. Sebuah tim negosiasi LNG Tangguh pun dibentuk, meski para anggotanya belum ditetapkan.

Seberapa harga ideal untuk LNG Tangguh yang proyeknya melahap investasi hingga US$ 6,5 miliar? Mungkinkah LNG Tangguh mendapatkan harga seperti LNG Badak atau lebih tinggi lagi?

Semuanya tergantung ketangguhan dari tim negosiasi yang dipimpin oleh Menkeu Sri Mulyani ini.
(lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads