Pengusaha Belum Siap Hadapi Integrasi Asia

Pengusaha Belum Siap Hadapi Integrasi Asia

- detikFinance
Rabu, 10 Sep 2008 17:31 WIB
Pengusaha Belum Siap Hadapi Integrasi Asia
Jakarta - Pengusaha dalam negeri mengaku belum siap menghadapi integrasi negara-negara Asia pada 2009. Integrasi tersebut justru bisa jadi bumerang karena bisa merugikan pengusaha dalam negeri dengan maraknya produk asing di pasar domestik.

Demikian disampaikan oleh Ketua Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Sofjan Wanandi di sela-sela seminar ADB (Asian Development Bank) di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (10/9/2008).

"Masih banyak hal-hal yang kita belum siap untuk memasuki integrasi Asia, saat ini kita cuma bisa bersaing dalam komoditi saja atau mining, tapi dalam manufacturing kita kalah dengan Thailand, pertanian kita kalah juga dengan Thailand, atau Malaysia untuk perkebunan," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dituturkannya, Indonesia harus bisa bergerak cepat untuk melakukan berbagai perbaikan jika memang rencana integrasi Asia akan dilakukan. "Pemerintah juga harus cepat sosialisasi karena harus memberikan kepada kita (pengusaha) aturan-aturan mainnya seperti apa supaya kita lebih efisien," ujarnya.

Sofjan mengatakan alasan lain pengusaha tidak siap menghadapi integrasi negara-negara Asia adalah karena berbagai kendala infrastruktur pendukung usaha.

"Kita kan menghadapi infrastruktur yang begitu sulit dan kita juga menghadapi masalah birokrasi, tidak seperti di negara-negara Asia lainnya. Lama-lama kita nggak bisa melawan mereka," katanya.

Bahkan menurutnya untuk sektor industri manufaktur, Indonesua masih kalah jauh dari negara-negara di Asia. "Jadi kita harus berpikir, integrasi Asia ini merugikan atau menguntungkan kita. Jangan nantinya mereka yang lebih banyak masuk ke market kita, sementara kita tidak bisa masuk ke market dia. Jadi menurut saya kita harus memperbaiki untuk menghadapi beberapa hal dalam integrasi Asia ini, agar kita diuntungkan," katanya.
ADB Siap Modali Secara terpisah, ADB (Asian Development Bank) menyatakan mendukung terbentuknya integrasi negara-negara Asia pada 2009 sehingga bisa tercipta tatanan ekonomi, sosial dan politik yang lebih kuat. ADB pun siap memodali dengan memberikan pinjaman untuk kawasan Asia hingga 30% dari total dana yang dihimpunnya pada 2020.

Presiden ADB Haruhiko mengatakan pihaknya memperkirakan integrasi Asia ini bisa tercapai pada 2020 dimana integrasi ini mencakup integrasi pasar dan arus barang, jasa dan modal, pasar keuangan yang likuid dan mendalam, serta integrasi di berbagai bidang.

Dalam kesempatan tersebut, Haruhiko mengatakan dalam mengintegrasikan kawasan ini, Asia bisa belajar dari Eropa dengan model integrasi yang unik untuk menyatukan berbagai karakter.

"Asia harus bisa mencari modelnya sendiri untuk menyatukan dan menata perbedaan yang ada dalam hal ekonomi, sosial, dan politik," ujarnya.

Kontribusi Asia kepada ekonomi global meningkat lebih cepat dibandingkan kawasan lainnya di dunia, hal ini didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan di kawasan tersebut, peningkatan investasi, keuangan dan pelayanan dalam kawasan tersebut.

"Untuk ASEAN sendiri dengan 10 negara anggotanya yang populasi keseluruhan masyarakatnya lebih dari 1 miliar orang, mempunyai GDP sebesar US$1,3 triliun di 2007," jelasnya.

Melihat peningkatan kontribusi ini, Haruhiko mengatakan ADB akan mengembangkan dukungan pendanaannya di kawasan Asia untuk mendukung integrasi dalam kawasan ini.

"Dan pada 2020 kita mentargetkan total pinjaman untuk proyek di kawasan Asia akan mencapai 30% dari total dana yang kami himpun," ujarnya.

Di tempat yang sama, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan belum bisa berkomentar banyak. "Tapi kan untuk AEC (ASEAN Economic Community) kan rencananya 2015, kalau untuk 2020 di Asia kita belum bisa lihat bagaimana untuk seluruh Asia," katanya. (dnl/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads