PPA Ajukan Rescheduling Utang Merpati ke Bank Mandiri

PPA Ajukan Rescheduling Utang Merpati ke Bank Mandiri

- detikFinance
Jumat, 12 Sep 2008 07:28 WIB
 PPA Ajukan Rescheduling Utang Merpati ke Bank Mandiri
Jakarta - Dalam rangka melakukan restrukturisasi dan revitalisasi pada PT Merpati Nusantara Airlines, PT PPA (Perusahaan Pengelola Aset) akan meminta perpanjangan pembayaran utang (rescheduling) Merpati kepada Bank Mandiri.

Hal ini dikatakan oleh Direktur Utama PPA M. Syahrial di kantor PPA (Perusahaan Pengelola Aset) di Gedung Sampoerna Strategic Square, Jakarta, Kamis malam (11/9/2008).

"Sekarang utangnya masih besar, utangnya besar sama (Bank) Mandiri, ya kita kerjasama dengan Mandiri dengan BUMN lainnya untuk selamatkan Merpati. Salah satunya kita minta penjadwalan utang yang penting Mandiri dan PPA kerjasama," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Syahrial tidak mengatakan berapa besar utang Merpati kepada Bank Mandiri saat ini. "Jumlahnya banyak, tidak seharusnya seperti itu. Tapi harus ada support dari Kementrian BUMN," ujarnya.

Dikatakannya, banyak hal yang bisa dilakukan Merpati untuk mengatasi pendarahan yang terjadi pada saat ini, salah satunya adalah efisiensi dalam bidang operasional.

"Tiketnya dibuat online, dibuat seperti Garuda, kemudian dia bisa meng-improve sistem baggage. Kemudian kerjasama dengan travel agent dengan lebih menguntungkan, agar jangan ditekan kompetitor lain," jelasnya.

Kemudian lanjut Syahrial, bisa juga melalui konsentrasi dengan busines segmentnya. Menurutnya Merpati yang menguntungkan pada segmen pesawat propeller bukan jet.

"Kalau jet mereka berkompetisi langsung dengan Garuda, Lion, Air Asia. propeller ini di dua market, segmen KSO dengan Pemda di daerah remote dan non KSO, yang non KSO itu yang berdarah-darah," katanya.

Menurutnya setelah pemerintah menyuntikkan dana Rp 300 miliar kepada Merpati, tidak perlu lagi ada dana yang harus disuntik pemerintah.

"Kalau suntik-suntik (lagi) tutup saja. Sudahlah ini penyelamatan pemerintah yang kedua kali. Dari jamannya Pak Hotasi sudahlah, enough is enough. dulunya kan problem-nya orang, kalau orangnya sudah hilang harus lebih efisien, apa lagi. kalau bisnisnya loss, ya sudah tidak usah invest di situ," tuturnya.
(dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads