Misalnya saja untuk penjualan sektor garmen di pasar domestik justru turun hingga 27%, total penjualan turun 2,2%, impor yang naik menjadi 24,6% dan surplus turun 9,1%. Meskipun ada titik cerah pada pencapaian ekspor yang mengalami kenaikan 6%.
Secara penjualan pada semester I 2008 mencapai US$ 6,44 miliar atau masih setengah dari total penjualan tahun 2007 yang mencapai US$ 13,35 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penjualan dipasar domestik turun sebagai akibat turunya daya beli masyarakat," kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno di gedung Departemen Perindustrian, Jakarta, Jumat (12/9/2008).
Dikatakannya meskipun mengalami kenaikan ekspor sebesar 6%, namun justru terjadi penurunan ekspor ke dua negara penting bagi produk TPT Indonesia yaitu AS dan Jepang. Untung hal ini diimbangi oleh meningkatnya permintaan TPT dari Uni Eropa karena tingginya impor di Eropa akibat penguatan Euro.
"Turunnya daya beli masyarakat AS terlihat dari penurunan impor di semester pertama sebesar 3,29%, tahun lalu bisa tumbuh 5%. Impor Jepang juga turun 6,38% karena perlambatan ekonomi," ujarnya.
Hal ini menurut Benny, tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang mempengaruhi permintaan dan daya beli, sehingga telah mengubah peta supply dan demand di dunia terhadap permintaan TPT.
"Lingkungan ekonomi bisnis sekarang ini mendorong produk TPT perlu melakukan penetrasi lebih besar di pasar UE dan ASEAN bahkan Timur Tengah," serunya.
Namun ia menggarisbawahi bahwa sekarang ini industri TPT selalu dihadapkan oleh masalah-masalah klasik seperti kebijakan moneter, masalah energi, ketenagakerjaan dan infrastruktur.
(hen/qom)











































