Indonesia bisa memperkecil ekses perlambatan itu dengan memaksimalkan pemanfaatan anggaran pembangunan sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kita gunakan kemampuan dalam negeri untuk memperkecil dampak buruk ketidakpastian global itu, kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo dalam penjelasan tertulisnya, Selasa (16/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Global slowdown akan menurunkan volume ekspor, sementara lemahnya daya beli rakyat akan menurunkan permintaan dalam negeri. Maka, satu-satunya pendorong pertumbuhan yang bisa diandalkan adalah realisasi APBN-P 2008," ujar Bambang.
Pemerintah perlu mencari langkah paling efektif untuk mempercepat realisasi proyek pembangunan serta belanja kementerian/lembaga (K/L). Hal ini penting karena hingga pertengahan September ini, penyerapan anggaran masih memprihatinkan.
Realisasi belanja baru mencapai 46 persen dari target APBN-P 2008 yang Rp 989,5 trilyun. Artinya, menuju akhir 2008, ada ruang cukup besar bagi pemerintah untuk mempercepat penyerapan anggaran agar bisa menstimulus pertumbuhan.
"Kita akan terus dihantui ketidakpastian pasar uang global, karena setelah Lehman Brothers ambruk. korban berikutnya akan menyusul. Dampaknya, IHSG di BEI jatuh ke titik terendah. Sementara itu, anjloknya harga minyak di bawah US$ 100 per barel menjadi isyarat turunnya permintaan. Susutnya permintaan energi adalah tanda bahwa perekonomian global dibayangi resesi," jelas Bambang.
(ir/qom)










































