Hal tersebut disampaikan Kepala Ekonom ADB Ifzal Ali dalam laporan ADB, Asian Development Outlook (ADO) 2008, yang dikutip detikFinance, Selasa (16/9/2008).
"Lonjakan harga pada tahun 2008 sebagian disebabkan oleh larangan ekspor di India, Vietnam yang masing-masing merupakan eksportir beras terbesar kedua dan ketiga di dunia serta di tempat-tempat lain," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat ke depan, laporan ini memperkirakan, harga bahan makanan tidak akan turun ke tingkatan seperti sebelum tahun 2008, paling tidak hingga beberapa waktu ke depan.
Menurut laporan ini bahkan jika negara-negara mulai berinvestasi pada sektor pertanian sekalipun, diperlukan panen yang baik selama beberapa tahun untuk bisa membangun kembali stok biji-bijian dunia yang menurun.
Negara-negara berkembang di kawasan Asia harus melakukan reformasi struktural yang mendukung sektor pertanian, jika tidak maka akan kembali menghadapi lonjakan harga bahan makanan.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa ada banyak dan beragam pendorong utama krisis bahan makanan dunia tahun ini, yang menyebabkan harga beras meningkat dari US$ 400 per ton pada awal tahun menjadi $1.200 per ton pada bulan Mei sebelum turun menjadi US$ 730 per ton minggu lalu. Namun masalah pasokan yang terus terjadi menjadi kekuatan utama yang mendorong terjadinya lonjakan harga.
(ddn/ir)











































