Hal ini dikatakan oleh Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dradjad Hari Wibowo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (17/9/2008)
Dikatakannya prediksi ADB yang mengatakan harga komoditas masih akan tinggi menjadi cara yang dilakukan agar negara-negara berkembang semakin banyak berutang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Dradjad pinjaman yang dilakukan oleh negara-negara berkembang sebenarnya dapat menjadi bumerang bagi mereka yang sudah terlanjur meminjam, kondisi keuangan mereka akan ambruk apabila harga komoditas ternyata justru menurun. "Saat harga minyak atau komoditas pangan anjlok, maka negara yang meminjam bisa ambruk," katanya.
Dia juga tidak sepakat dengan pernyataan bahwa pertumbuhan tinggi di Asia akan memicu permintaan energi yang meningkat sehingga harga minyak dapat melambung. Sebab menurutnya seluruh lembaga ekonomi dunia saat ini mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, sehingga permintaan energi sulit untuk meningkat signifikan.
"Apalagi kalau harga minyak diperkirakan masih akan tinggi sampai 2020. Saya rasa prediksi tersebut tidak realistis dan tidak memperkirakan gejolak-gejolak yang mungkin bisa memperlambat pertumbuhan," papar Dradjad.
(dnl/ir)











































