Menghitung Harga LNG Tangguh

Menghitung Harga LNG Tangguh

- detikFinance
Kamis, 18 Sep 2008 18:07 WIB
Menghitung Harga LNG Tangguh
Jakarta - Mau tahu berapa harga LNG Tangguh sebenarnya dan bagaimana harga LNG Tangguh yang bisa dicapai melalui renegosiasi dengan China kali ini? Simak berikut ini.

Anggota Tim Pengawas Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi sekaligus Guru Besar ITB Widjajono Partowidagdo menjelaskan, harga LNG Tangguh sebenarnya dipengaruhi dua factor, yaitu harga financial (Pf) dan harga setara minyak (Po) dalam satuan MMBTU.

Harga financial (Pf) bisa diibaratkan sebagai biaya modal sehingga menentukan harga minimal supaya proyek bisa balik modal. Sementara harga minyak (Po) merupakan harga minyak yang berlaku saat itu di pasaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada saat pasar dikuasai oleh pembeli (buyer’s market) biasanya penjual LNG rela menjual harga gasnya dengan harga minimal atau mendekati harga financial (Pf). Sehingga koefisien untuk harga financial (Pf) mendekati angka 1.

"Istilahnya minimal balik modal deh," kata Widjajono dalam seminar energy di Wisma BCA, Jakarta, Kamis (18/9/2008).

Sementara ketika pasar dikuasai penjual (seller's market) maka pembeli rela membeli harga setara dengan harga di pasaran yang dilihat dari acuan harga minyak di pasar (Po). Dengan begitu maka koefisien untuk harga acuan minyak akan mengecil hingga mendekati angka 0.

Paparan diatas menjelaskan formula harga LNG Tangguh yang sebagai berikut:

P = x Pf + (1-x) Po

Kondisi saat harga LNG Tangguh pertama kali diteken pada 2002 adalah buyer’s market. Kondisi ini membuat formulanya menjadi:

P = 0,0525 JCC + 1,34

JCC (Japanese Crude Cocktail) merupakan patokan harga minyak di Jepang.

Selain itu ia juga menjelaskan, gas dari lapangan Tangguh memang tergolong berkalori rendah. Jika ingin menyetarakan dengan 1 barel minyak misalkan, dibutuhkan sekitar 5615 SCF gas Tangguh atau setara 5,7 MMBTU kalori. Sementara gas lainnya bisa menghasilkan kalori hingga sekitar 6 MMBTU.

Dengan memasukkan asumsi tersebut maka rumusan harga LNG Tangguh menjadi:

P = 0,0525 x 5,7 Po + (1-0,0525 x 5,7) PfΒ Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β  dan menjadi

P=0,3 Po + 0,7 Pf

Jika menyamakan 0,7 Pf = 1,34, maka didapat harga financial atau batas minimal untuk balik modal LNG Tangguh sebesar US$ 1,91/MMBTU.

"Jadi sebenarnya proyek Tangguh nggak akan rugi meskipun dijual dengan harga US$ 2/MMBTU. Karena sudah balik modal," ujarnya lagi.

Namun perlu diingat, selain menggunakan formula tersebut, harga LNG Tangguh juga dibatasi dengan batas atas JCC sebesar US$ 25/barel dan batas bawah JCC sebesar US$ 15/barel. Dengan formula diatas, maka harga maksimum LNG Tangguh adalah US$ 2,6/MMBTU.

Batasan harga atas inilah yang kemudian direnegosiasi ulang pada 2006 menjadi US$ 38/barel. Dengan batasan harga baru ini maka harga maksimal LNG Tangguh menjadi US$ 3,335/MMBTU.

Renegosiasi 2008

Kini harga minyak yang makin tinggi juga mengerek harga LNG di seluruh dunia. Kecuali harga LNG yang kontraknya dibatasi dengan harga batas atas. Pemerintah pun sudah membentuk tim negosiasi untuk membahas ulang harga LNG Tangguh yang diekspor ke China.

Lalu berapa harga yang paling mungkin dicapai tim renegosiasi?

Menurut Widjajono, dalam kondisi harga minyak yang tinggi seperti ini ada dua cara menaikkan harga LNG. Pertama adalah menaikkan kembali batas atas harga minyak patokannya atau menghapus sekalian batasan harga atas tersebut.

Widjajono menjelaskan dengan kondisi harga minyak yang tinggi seperti sekarang, harusnya LNG bisa dijual dengan formula:

P = 0,7 Po + 0,3 Pf atau mendekati harga yang ada di pasaran karena pasar sudah berubah jadi seller's market.

Ia pun menganjurkan agar tim negosiasi meminta agar batasan atas harga minyak patokan dari US$ 38/barel menjadi US$ 80/barel. Β 

Mengapa US$ 80/barel?

Bagi Widjajono angka tersebut paling ideal karena merupakan 2/3 harga minyak saat iniyang sempat stabil di kisaran US$ 120/barel. Hal ini sama dengan negosiasi pada 2006 yang mengubah harga patokan atas menjadi US$ 38/barel atau sekitar 2/3 dari harga minyak saat itu yang sebesar US$ 60/barel.

Selain itu harga batas atas US$ 80 per barel merupakan pertengahan antara harga patokan sebelumnya US$ 38/barel dengan harga minyak di pasar yang sekitar US$ 120/barel. Namun dengan begitu harga LNG Tangguh hanya bisa dikerek dari US$ 3,3/MMBTU menjadi US$ 5,54/MMBTU.

"Angka ini yang paling realistis disetujui China. Kalau harga minyak naik terus baru kita minta batas atas dilepas. Karena tidak mungkin kalau kita meminta batas atas langsung dihapuskan sekarang. China tidak akan mau," ujarnya.

(lih/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads