"Kalau masyarakat tidak tahu risikonya sekarang sudah anda lihat tuh, tahu apa kalian dan saya tentang BLBI, tapi sekarang jadi tanggungan siapa, rakyat Indonesia kan, termasuk saya dan Anda, padahal tahu pun kita tidak," jelas Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution.
Hal itu diungkapkan Anwar usai pertemuan dengan pemimpin redaksi media massa di Kantor Pusat BPK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis malam (18/9/2008). Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka itu, BPK ingin terus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sistem keuangan negara dengan cara terus memberikan informasi yang terbuka kepada masyarakat mengenai sistem keuangan di negara ini.
Anwar mengatakan fungsi BPK semakin sangat penting di era reformasi untuk memberikan keterbukaan informasi mengenai keuangan negara kepada masyarakat.
"BPK ini sangat penting sekali dan krusial di era reformasi ini, karena sekarang kita menggantikan sistem politik jadi politik demokrasi yang tadinya otoriter. Rakyat ingin tahu untuk apa uang itu dipakai, untuk apa utang pemerintah itu dipakai," tuturnya.
Dijelaskan Anwar pertemuannya dengan kalangan media ini dilakukan untuk mempererat hubungan dengan media sebagai penyambung informasi berkaitan temuan-temuan BPK.
"Pertemuan hari ini merupakan pertemuan dari hati ke hati. BPK sangat berharap sekali dengan media, karena kita berkepentingan menyampaikan hasil temuan BPK pada masyarakat luas, dan partnernya adalah media. Dan masalah transparansi serta akuntabilitas," katanya.
Dalam pertemuan itu, dijelaskan Anwar, BPK juga mengintrodusir mengenai otonomi daerah dan melihat apa sumber penyebab munculnya gejolak di daerah.
"Kerja kita dari tahun 1948 hingga detik ini cekcok perang saudara melulu kita. Poso belum selesai, Ambon, Papua, masih ada asap-asapnya. Apa sumber perpecahan itu, salah satunya adalah saling curiga mencurigai, pembagian uang antar daerah, antara pusat dengan daerah. Karena itulah perlu transparansi supaya jangan ada lagi saling curiga mencurigai," katanya.
"Jadi kalau Anda concern bagaimana mempertahankan NKRI, isinya adalah transparansi dan akuntabilitas. Demikian juga dengan era globalisasi, siapa yang mau berhubungan dengan Anda kalau uang anda hasil tipu melulu," tandasnya.
Selain itu, Anwar menampik bahwa pertemuan dengan kalangan media ini berkaitan dengan keterlibatannya dalam kasus aliran dana BI, karena ada materi mengenai kronologis dana aliran BI dalam pertemuan tersebut.
"Oh tidak, memang di bahannya ada kasus mengenai BI, tapi ada juga mengenai masalah minyak, dan lain-lain. Juga ada masalah batubara. Kita audit batubara sudah masuk uangnya jutaan dolar di Kalimantan. Lalu mengenai LKPP. Jadi banyak topik yang dibicarakan," paparnya. (dnl/ir)










































