"Belum terlihat ada gejolak akibat kenaikan harga sembako di pasar. Secara umum stabil, malah ada beberapa komoditi mengalami penurunan harga," kata anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah Istimewa Yogyakarta, Riyadi Ida Bagus SS kepada wartawan di kantor Bank Indonesia Yogyakarta di Jalan Senopati Yogyakarta, Jumat .
Menurut Riyadi saat tim melakukan pemantauan langsung di sejumlah pasar di Kulonprogo dan Bantul, dari 30 komoditi terdapat 12 komoditi yang mengalami penurunan harga. Sebanyak 3 komoditi kondisinya tetap sama seperti sebelum puasa. Sebanyak 15 komoditi mengalami kenaikan namun tidak mengganggu komoditas lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, komoditas yang mengalami kenaikan adalah telur ayam dengan rata-rata kenaikan 10 persen. Harga telur ayam sejak awal puasa mengalami kenaikan dari Rp 9 ribu menjadi Rp 12.500/kg. Sedang harga daging sapi di semua daerah di Yogyakarta cenderung sama sekitar Rp 58 ribu/kg.
Untuk beras lanjut dia, harga juga stabil karena petani di Bantul dan Kulonprogo masih panen raya. Harga beras jenis Rojolele Rp. 6.500/kg, Mentik wangi Rp 4.800/kg dan beras jenis IR 64 berkisar Rp 4.300 hingga Rp 5.200/kg. Sedang harga gula pasir hampir sama di semua pasar Rp 5.800/kg.
"Khusus sayuran seperti cabe, bawang merah dan bawang putih justru mengalami penurunan drastis. Harga bawang merah di Bantul yang merupakan sentranya turun dari Rp 5 ribu menjadi Rp 3.500/kg. Padahal di Kota Yogyakarta dan wilayah lain harga cabe merah masih berkisar Rp 6 ribu - Rp 7 ribu/kg. Harga cabe merah juga turun hingga Rp 3 ribu/kg. Sedang di luar sekitar Rp 7.700/kg," pungkas dia.
Sementara itu Kepala Bulog Divre DIY, Morino, stok beras dan bahan kebutuhan pokok lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) aman. Stok beras mencukupi hingga bulan Maret 2009.
"Stok masih ada dan mencukupi sampai dengan Maret 2009," kata Mudjono kepada wartawan di kantor Bank Indonesia (BI) Yogyakarta di Jl Senopati.
Morino mengatakan 4 gudang beras Bulog di gudang Sogan Wates, gudang Playen Wonosari, gudang Pajangan Bantul, dan di gudang Kalasan Sleman, masih tersedia beras sebanyak lebih dari 41 ribu ton. Di gudang Soga Wates, beras tersedia sekitar 4.646 ton. Di gudang Playen Wonosari 6.283 ton. Sedang di gudang Pajangan Bantul 5.555 ton dan di gudang Bulog Kalasan tersimpan sebanyak 24.466 ton beras.
"Total beras yang ada di gudang sebanyak 41 ribu ton. Jumlah sebanyak itu berarti stok beras di DIY aman hingga bulan Maret 2009 mendatang. itu belum ditambah dengan musim panen akhir tahun ini," Morino didampingi Tim Pengendalian Inflasi Daerah, Nanang Suwandi dan Kepala BI Yogyakarta, Tjahjo Oetomo.
Menurut dia, dari jumlah beras yang tersimpan sebanyak 41 ribu ton itu, sesuai dengan INPRES HPP beras untuk raskin yang tersedia sekitar 27 ribu ton.
Sisanya sekitar 14 ribu ton lebih merupakan beras non HPP. Beras non HPP atau beras premium itu akan digunakan sebagai persediaan bila terjadi gejolak harga di pasaran.
"Beras premium itu bia digunakan bila ada operasi pasar dan nantinya bisa diambil alih pemerintah sebagai cadangan beras pemerintah," katanya.
Dia menambahkan karena stok beras mencukupi, Bulog DIY juga diminta pemerintah pusat untuk mengirimkan beras di Sukabumi dan Bogor Jawa Barat sekitar 2 ribu ton.
Jumlah itu untuk menambah ketersediaan pangan di wilayah itu hingga akhir tahun 2008. "Secara umum stok pangan di DIY aman dan tidak ada gejolak ekonomi yang sangat mengganggu," pungkas dia.
(bgs/ddn)











































