Sri Mulyani yang ditemui di kantornya, Jumat (19/9/2008) malam mengatakan, kejatuhan lembaga-lembaga keuangan besar di AS yang salah satunya adalah Lehman Brothers membuat situasi pasar keuangan di seluruh dunia dilanda kepanikan.
"Tahun 2007 dan tahun sebelumnya sebetulnya, dunia kebanyakan likuiditas kemudian dia mencari-cari tempat untuk menyimpan likuiditas, seperti properti, kemudian mengejar-ngejar komoditas dan surat berharga. Sekarang panik dan tidak percaya satu sama lain, mereka berpikir kalau Lehman saja bisa bangkrut bagaimana yang lain? ini menyebabkan transaksi stop dan likuiditas mandek," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga tidak terjadi exchange, makanya muncul isu likuidtas padahal sebenarnya likuiditas itu belum disedot karena suku bunga The Fed tidak naik. Jadi ini adalah situasi yang dilakukan The Fed dan Treasury sebenarnya me-restore confidence dulu sehingga mereka melakukan dengan selektif seperti mem-bail out lembaga keuangan," katanya.
Dikatakannya, akibat rusaknya sektor keuangan AS, semua negara ikut terjangkit masalah likuiditas. "Mereka berpikiran kapan negaranya ketimpa likuidtas, sekarang yang paling drastis kenanya Rusia, apalagi ada perang dengan Georgia, investor pada lari semua, sahamnya jatuh hingga -17%. Makanya dia suspen tutup dua hari," jelasnya.
Demikian juga dengan Australia yang dikatakan Sri Mulyani mengalami masalah yang sama. "Bank Macquire satu bank yang eksposure propertinya tinggi sudah mulai dispekulasi. Kalau sebuah bank sudah dispekulasi orang tidak mau lagi bertransaksi dengan dia sehingga kesulitan likuiditas, padahal likuiditas di perekonomiannya sebenarnya masih cukup besar," katanya.
Karena itu, masalah utama yang dihadapi pemerintah negara di dunia adalah untuk memulihkan kepercayaan investor, sehingga transaksi berjalan kembali dan likuiditas menjadi normal.
"Itu tidak gampang karena lembaga keuangan yang dianggap tangguh ternyata bangkrut, sehingga ini yang saya sebut kerapuhan dalam sistem global menjadi salah satu tantangan buat kita," jelasnya.
Sri Mulyani menjelaskan kalau sistem keuangan rapuh atau mengalami krisis, maka kemudian akan membawa pengaruh kepada sektor riil.
"Itu yang kemudian sudah diprediksi semua orang bahwa semua negara melakukan revisi perekonomian ke bawah. Di Asia bahkan turun seperti Cina mencapai 200 bps apalagi AS dari 10% menjadi 8% kemudian 7%. Di revisi ADB hanya Indonesia saja yang tidak direvisi ke bawah tetap 6,2-6,3%. Tapi 2008-2009 seluruh negara prediksinya turun ke bawah, padahal likuiditas tidak kering-kering banget hanya stop di bank," pungkasnya.
(dnl/qom)










































