Pada perdagangan Jumat (19/9/2008), minyak jenis light melonjak hingga 6,67 dolar ke US$ 104,55 per barel. Secara total, kontrak minyak ini sudah melonjak hingga 14,7% hanya dalam 3 hari, atau kenaikan terbesar sejak Desember 1998 ketika AS dan Irak berseteru.
Demikian pula kontrak minyak jenis Brent juga melonjak 4,42 dolar ke level US$ 99,61 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak sebelumnya sempat turun menyentuh US$ 90 per barel. Kekhawatiran investor akan meluasnya dampak krisis finansial terus menekan harga minyak turun ke bawah.
Namun seiring terungkapnya berbagai rencana pemerintah AS untuk menyelamatkan pasar finansialnya, pasar saham membaik, likuiditas pun semakin mencukupi. Harga minyak selanjutnya juga mendapat tekanan naik dari melemahnya dolar AS.
"Para pialang akan terus fokus ke pasar finansial yang dikhawatirkan dapat menggerus tingkat permintaan, dan juga pergerakan dolar serta produksi minyak di Teluk AS," ujar Gerard Burg, analis dari National Australian Bank.
Sekitar 89,2% produksi minyak di Teluk Meksiko belum beroperasi, setelah terjadinya badai Ike. "Pasar berharap melihat pemulihan yang cepat dari produksi setelah badai Ike, namun hingga kini belum juga terealisasi," kata Killduff.
(qom/qom)











































