Peredaran Susu China di Indonesia Sangat Rendah

Peredaran Susu China di Indonesia Sangat Rendah

- detikFinance
Minggu, 21 Sep 2008 17:02 WIB
Peredaran Susu China di Indonesia Sangat Rendah
Jakarta - Beberapa negara seperti Singapura, Hongkong dan Brunei mulai melarang impor dan peredaran susu produksi China. Namun Indonesia dinilai belum perlu melakukannya karena peredaran susu China yang masih sangat rendah di tanah air.

Demikian disampaikan Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Thomas Dharmawan ketika dihubungi detikFinance, Minggu (21/9/2008).

Menurutnya, impor susu China di Indonesia sangat kecil karena pasar susu Indonesia dikuassai produsen-produsen besar seperti Nestle dan Indomilk. Kalau pun ada, konsumen susu produk China biasanya adalah masayarakat di daerah perbatasan atau mereka yang sudah fanatik terhadap produk tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Susu dari China di sini kecil sekali. Apalagi sejak kejadian permen China yang menjadi perhatian beberapa waktu lalu, pengawasan produk dari China menjadi lebih ketat. Sehingga produk yang tidak berkualitas baik lebih susah masuk. Kalaupun ada yang ilegal, mungkin di daerah perbatasan," ujarnya.

Meski begitu, ia tetap meminta konsumen untuk berhati-hati dalam membeli produk susu baik susu bubuk, susu cair ataupun yogurt dan lainnya.

Thomas menjelaskan, konsumsi susu di Indonesia sekitar 9 liter per kapita pertahun. Jauh dibawah konsumsi India dan China yang mencapai 18 liter per kapita per tahun. Kedua negara tersebut sebenarnya merupakan negara produsen susu terbesar di dunia, namun karena konsumsi dalam negeri juga banyak, maka ekspor ke luar negeri tidak sebanyak Australia ataupun Selandia Baru.

Di Indonesia sendiri, 70% susu yang beredar di pasaran merupakan susu impor terutama dari Australia dan Selandia Baru. Impor susu yang dilakukan ada dua jenis. Pertama impor dalam bentuk susu bubuk atau cair, kedua impor dalam bentuk bahan baku susu (susu skim) yang bisa diolah lagi. Sementara 30% sisanya adalah produksi dalam negeri.

Menurut Thomas, salah satu alasan susu produk China tidak terlalu laris di Indonesia adalah perbedaan aroma. Susu yang disukai di Indonesia adalah susu yang relatif lebih wangiΒ  karena menggunakan minyak kelapa sawit. Sementara susu dari China tidak sewangi susu yang diminati di Indonesia.

"Susu di IndonesiaΒ  lebih wangi karena pakai minyak kelapa sawit. Susu dari China tidak sewangi di sini. Mungkin karena Indonesia senang yang berbau minyak nabati, ada gulanya dan pakai minyak sawit," jelasnya.

Karena itu,ia menghimbau pada para pedangan susu dari China,lebih baik segera menarik produknya secara sukarela sebelum ditarik paksa. "Kalau ditarik paksa nanti kan malah rugi karena akan dimusnahkan. Kalau ditarik sendiri, kan bisa digunakan untuk pakan ternak.

(lih/iy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads