Menteri Keuangan/Menko Perekonomian Sri Mulyani mengatakan krisis sektor keuangan ini khususnya di AS akan berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia.
"Tentu kita akan lihat dampaknya immediate kita langsung ke AS maupun yang melalui intermediate destination, katakanlah Cina atau negara-negara di Asia, yang jelas slowing down dari ekonomi global memang sudah diperhitungkan. Oleh karena itu kalau anda lihat semuanya menjadi lebih hati-hati di dalam membuat proyeksi mengenai pertumbuhan ekonomi," tuturnya saat ditemui di Hotel Crown, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (22/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi saya kira kita sudah mulai recover bursa efek kita, saya rasa itu juga karena intervensi luar biasa pemerintah AS. Pemerintah AS saya rasa sudah cukup turun tangan, hanya memang dalam proses selanjutnya dan sebelumnya," katanya.
Melihat kondisi turbulensi sektor keuangan yang terjadi ini, Hidayat menganjurkan para pelaku sektor riil untuk mengambil posisi menunggu (wait and see).
"Karena tight money policy diterapkan, karena likuiditas perbankan belum favorable sehingga suku bunga sekarang tinggi. Andaikata pengusaha dapat kredit sekarang tinggi dan itu tidak kondusif," katanya.
Jadi, memang kebijakan uang ketat ini dilakukan Bank Indonesia untuk menjaga inflasi tidak melonjak tinggi melebihi target yang ditetapkan.
"Maka yang diterapkan adalah kebijakan uang ketat dan itu berdampak pada sektor riil, jadi sektor riil disuruh mengalah dulu. Pemerintah mau menyelamatkan atau mengutamakan makro ekonomi, lebih-lebih dengan turbulensi finansial. kejadian ini sudah bisa ditanggulangi untuk sementara, mudah-mudahan tidak terjadi lagi berikutnya," paparnya. (dnl/ddn)











































