Agustus 2008 secara bertahap mulai bulan September ini hingga akhir tahun.
Hal tersebut dijelaskan Wakil Dirut PLN Rudiantara disela-sela buka puasa BUMN di Gedung Pertamina, Jakarta, Senin (22/9/2008).
Menurut Rudiantara, total utang ke Pertamina hingga bulan kemarin mencapai lebih dari Rp 40 triliun. Hutang sebesar itu akan dicicil pada September sebesar Rp 15 triliun, pada Oktober sebesar Rp 15 triliun, dan pada November dan Desember masing-masing Rp 6 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dengan begitu bukan berarti utang PLN tuntas, karena selama empat bulan tersebut PLN tetap mendapat tagihan untuk pemakaian BBM selama bulan tersebut.
"Kita terima lagi tagihan. Itu namanya siklus, karena kan kita dapat pendapatan lagi dari pelanggan. Utang total terakhir itu Rp 42 triliun, sisanya dibayarkan sekarang hingga Desember. Tapi September-Oktober kita beli BBM lagi,dibayarkan belakangan lagi. Karena memang kan kita beli BBM nggak bayar sekarang," jelasnya.
Sumber dana pembayarannya berasal dari pendapatan penjualan listrik PLN dan subsidi yang dibayarkan pemerintah. Setelah pendapatan dari kedua sumber tersebut dikurangi biaya lainnya, maka bisa digunakan untuk membayar utang ke Pertamina.
Obligasi
Rudiantara juga mengungkapkan, PLN akan menerbitkan obligasi dalam bentuk rupiah pada bulan November 2008 sebesar Rp 3 triliun. Dana yang dikumpulkan akan digunakan sebagai opex dan capex perseroan.
"Yang rupiah rencananya November, kalau tidak berubah Rp 3 triliun. Kita optimis karena ini di dalam negeri. Kalau global dari awal memang tidak ada rencana itu," ujarnya.
(lih/qom)











































