Hal ini dikatakan oleh Koordinator Panja Asumsi Dasar, pendapatan, defisit dan pembiayaan RAPBN 2009 DPR RI Harry Azhar Azis dalam rapat kerja dengan pemerintah dan BI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin malam (22/9/2008).
"Asumsi harga minyak dalam tahun 2009 disepakati turun menjadi US$95/barel mengikuti kecenderungan harga minyak yang menurun akhir-akhir ini," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi 2009 akan didukung dari bidang pertanian, pertambangan, manufaktur, serta bidang jasa lainnya seperti transportasi dan telkomunikasi," kata Harry.
Kemudian untuk inflasi pada 2009, disepakati besaran inflasi selama 2009 adalah sebesar 6,2% diturunkan dari asumsi inflasi pada Nota Keuangan yang sebesar 6,5%.
"Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kebijakan administered price yang minimal dan terjaganya pasokan dan arus distribusi barang," ujar Harry.
Untuk rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di 2009 disepakati sebesar Rp 9.150/US$ dinaikkan dari asumsi pada Nota Keuangan yang sebesar Rp 9,100/US$, dimana perkiraan tersebut disebabkan karena pilihan kebijakan moneter dan suku bunga untuk mencapai inflasi rendah dan mendorong sektor riil.
Lalu untuk suku bunga SBI 3 bulan dalam 2009 dikatakan Harry diperkirakan tetap pada kisaran 8% diturunkan dari asumsi SBI 3 bulan pada Nota Keuangan yang sebesar 8,5%, sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sektor riil.
"Untuk lifting minyak dalam tahun 2009 disepakati sebesar 960 ribu barel per hari atau naik dari asumsi pada Nota Keuangan yang sebesar 950 ribu barel per hari, besaran lifting tersebut sudah termasuk potensi tambahan sebesar 50 ribu barel per haru dari swap," ujarnya.
Dalam asumsi dasar RAPBN 2009 ini memang pemerintah dan DPR sepakat untuk memasukkan perhitungan lifting gas dan produksi batubara.
"Untuk lifting gas dalam tahun 2009 adalah sebesar 7.526,3 MMSCFD, dan untuk produksi batubara dalam tahun 2009 adalah sebesar 250 juta ton," papar Harry.
Sementara untuk besaran PDB di 2009 disepakati Rp 5.309,37 triliun atau naik dari PDB pada Nota Keuangan yang sebesar Rp5.295,34 triliun.
(dnl/qom)











































