"Kalau DPR minta, tentu kita akan kaji lagi," kata Kepala BP Migas R Priyono disela-sela Rapat Pansus Hak Angket di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Rabu (23/9/2008).
Priyono menjelaskan, keputusan memilih membangun FSO dulu dipilih berdasarkan hasil studi yang dilakukan MobilCepu Ltd dan Pertamina EP Cepu. Studi dilakukan antara lain berdasarkan keekonomian, kemudahan lahan, dan masa pembangunan.
"FSO akhirnya dipilih karena alasan keekonomian, bukan kecepatan semata. Kalau cepat tapi mahal, sama saja dong. Plan of Development juga kan berdasarkan keekonomian," ujarnya.
Ia tak mengelak ketika ditanya apakah mengubah rencana FSO menjadi storage di daratan akan menurunkan keekonomian. Yang pasti, apapun dampak perubahan rencana dalam blok Cepu akan disampaikan terlebih dulu ke DPR.
"Kami akan sampaikan juga konsekuensi-konsekuensinya," ujar Priyono.
Ia juga menjelaskan, pengkajian ulang FSO tidak berdampak ke rencana produksi awal Cepu yang direncanakan pada akhir 2008. Karena FSO diperlukan ketika produksi Cepu sudah mencapai puncaknya, yang diperkirakan pada 2011-2012. Masalah FSO ini kembali mencuat karena diduga merugikan negara hingga US$ 1,2 miliar. (lih/qom)










































