Padahal dalam APBNP 2008 total jatah BBM bagi PLN hanya sebesar 9,061 juta kiloliter. Jumlah ini terdiri dari jatah jenis HSD (high speed diesel) 5,75 juta kiloliter, MFO (marine fuel oil) sebesar 3,569 juta kilo liter dan IDO (industrial diesel oil) sebesar 1,905 juta kilo liter.
"Kalau HSD September ini used up (habis terpakai), tapi kalau MFO masih ada. Tahun ini memang akan melebihi kuota, bisa sampai 11 jutaan," kata Wakil Dirut PLN Rudiantara di Kantor PLN Pusat, Jakarta, Rabu (25/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua terkait kenaikan harga minyak dunia yang mendorong mahalnya harga BBM yang dibeli PLN. Dua hal ini membuat konsumsi PLN yang pada keadaan normal hanya sekitar Rp 4-5 triliun per bulan melonjak hingga sempat mencapai Rp 7 triliun per bulan.
"Setelah harga minyak naik sejak Maret tahun lalu, pada puncak tertingginya, biaya BBM kita pernah mencapai Rp 7 triliun per bulan. Dengan volume BBM sebesar 900 ribu kilo liter per bulan," katanya.
Biaya BBM menjadi komponen yang sangat berpengaruh terhadap struktur biaya produksi PLN. Porsinya bisa mencapai 70% dar total biaya PLN.
Namun kedepan dengan adanya proyek 10.000 MW, maka diharapkan penggunaan BBM bisa dikurangi sehingga bisa menekan biaya produksi. Selain mengurangi biaya BBM dari sisi volume, PLN juga berniat mengurangi biaya BBM dari segi marjin yang dibayarkan ke pemasok.
Dalam APBNP 2008, alpha BBM PLN yang berasal dari Pertamina adalah 5%. Sementara pada RAPBN 2009 dibuat variatif yaitu 5% untuk BBM jenis HSD, 9% untuk BBM jenis MFO, dan 9% untuk BBM jenis IDO.
Salah satu cara menekan marjin atau alpha yang harus dibayar ke pemasok adalah dengan mencari alpha terendar melalui lelang. Selama ini pasokan BBM PLN hanya dilayani Pertamina.
"Memang bulan-bulan depan kami akan segera melakukan tender. Mungkin yang jenis MFO duluan," ujarnya.
Rudiantara menegaskan, dalam melakukan lelang BBM, pihaknya akan mencari pasokan BBM untuk jangka menengah, prospektif, dan ada perbedaan yang signifikan dari pemasok BBM yang sekarang.
Alpha untuk pengadaan BBM PLN yang melalui lelang ditentukan sebesar 3,35% dalam RAPBN 2009.
Lelang BBM oleh PLN ini sempat menuai protes dari Pertamina sebagai pemasok
tunggalnya selama ini karena PLN masih menunggak sejumlah utang ke Pertamina.
Namun Rudiantara menyatakan PLN akan melunasi utang-utangnya secara bertahap. Salah satunya pada bulan ini dimana PLN harus mulai menyicil pelunasan utang sebesar Rp 15 triliun.
"Pada Jumat kemarin kami sudah lunasi Rp 11 triliun, jadi tinggal 4 triliun lagi," katanya.
Setelah itu, pada Oktober PLN juga sepakat membayar Rp 15 triliun lagi dan Rp 6 triliun masing-masing untuk bulan November dan Desember. Pelunasan ini tidak termasuk tagihan berjalan pada empat bulan tersebut.
"Kalau tagihan BBM pada bulan itu akan kita bayar, tapi nanti," ujarnya.
(lih/qom)











































