Hal tersebut disampaikan Dirut PGN Hendi P Santoso dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Kamis (26/9/2008).
"Untuk 2009 dan seterusnya kami sebenarnya sudah ada HoA (Head of Agreement) dengan pelanggan industri. Tapi karena adanya program gasifikasi kelistrikan PLN, volume penjualan tahun depan ke industri berkurang sebesar yang dijual ke PLN. Pasar tradisonal PGN terutama Jabar, berkurang 200 BBTUD, " katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu seandainya bisa mendapat pasokan gas yang cukup, kami yakin tambahan gas bisa tersalur dengan mudah. Karena kami juga selalu menambah jaringan distribusi," katanya.
Hendi mengaku, PGN memilih memasok gas ke PLN ketimbang pelanggan industri karena mempertimbangkan dampak ekonomi nasional. Selain itu, PLN juga bersedia membayar dengan harga seperti industri yaitu sebesar US$ 5,5/mmbtu.
"Industri kan nggak bisa jalan kalau nggak ada listrik. Dan kami juga tidak rugi karena harganya sama," katanya.
Namun ia menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan gas bagi industri untuk menghindarkan para industri dari pemakaian solar sebagai pengganti gas.
Berdasarkan penjualan semester pertama PGN 2008 yang sebesar 551 mmscfd, penghematan yang dilakukan industri bisa mencapai Rp 45 triliun dibanding pemakaian solar.
"Makanya kalau tidak disalurkan, mereka akan pakai solar dan ini bisa merugikan Rp 45 triliun. Karena sebesar itulah penghematan dari pemakaian gas," jelasnya.
(lih/ddn)










































