Pasokan Gas PGN ke Industri Berkurang Karena PLN

Pasokan Gas PGN ke Industri Berkurang Karena PLN

- detikFinance
Kamis, 25 Sep 2008 12:16 WIB
Pasokan Gas PGN ke Industri Berkurang Karena PLN
Jakarta - Akibat memasok gas ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), pasokan gas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ke pelanggan industri lainnya harus berkurang sekitar 200 BBTUD. Defisit gas paling parah terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.

Hal tersebut disampaikan Dirut PGN Hendi P Santoso dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Kamis (26/9/2008).

"Untuk 2009 dan seterusnya kami sebenarnya sudah ada HoA (Head of Agreement) dengan pelanggan industri. Tapi karena adanya program gasifikasi kelistrikan PLN, volume penjualan tahun depan ke industri berkurang sebesar yang dijual ke PLN. Pasar tradisonal PGN terutama Jabar, berkurang 200 BBTUD, " katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekurangan tersebut belum termasuk permintaan yang tidak bisa terpenuhi sebesar 1.290 BBTUD karena kurangnya pasokan gas dari produsen. Hingga 2014, PGN baru mendapat pasokan gas sekitar 800-900 BBTUD. Kekurangan gas ini tidak berpengaruh terhadap pasokan yang berlangsung sekarang, tapi merupakan proyeksi kekurangan pasokan gas tahun depan.

"Karena itu seandainya bisa mendapat pasokan gas yang cukup, kami yakin tambahan gas bisa tersalur dengan mudah. Karena kami juga selalu menambah jaringan distribusi," katanya.

Hendi mengaku, PGN memilih memasok gas ke PLN ketimbang pelanggan industri karena mempertimbangkan dampak ekonomi nasional. Selain itu, PLN juga bersedia membayar dengan harga seperti industri yaitu sebesar US$ 5,5/mmbtu.

"Industri kan nggak bisa jalan kalau nggak ada listrik. Dan kami juga tidak rugi karena harganya sama," katanya.

Namun ia menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan gas bagi industri untuk menghindarkan para industri dari pemakaian solar sebagai pengganti gas.

Berdasarkan penjualan semester pertama PGN 2008 yang sebesar 551 mmscfd, penghematan yang dilakukan industri bisa mencapai Rp 45 triliun dibanding pemakaian solar.

"Makanya kalau tidak disalurkan, mereka akan pakai solar dan ini bisa merugikan Rp 45 triliun. Karena sebesar itulah penghematan dari pemakaian gas," jelasnya.
(lih/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads