Sekretaris Utama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Sestama Bappenas Syahrial Loetan menjelaskannya usai buka puasa bersama di Kantor Bappenas, Jakarta, Kamis (25/9/2008).
"Pengaruh ke kita masih bisa terkendali karena tingkat pengaruh resesi ekonomi AS terhadap kita kalau menurut prediksi ahli hanya maksimal 25%. Jadi kalo ada something di sana, risikonya 25% ke kita," ujarnya.
Rembetan krisis bisa terjadi jika pembeli komoditi ekspor di AS gagal membayar atau menurunkan pesanannya. Untungnya, Indonesia sudah melakukan beberapa diversifikasi ekspor sehingga tidak memfokuskan pada AS saja. Baik diversifikasi negara tujuan ataupun memperbanyak porsi dalam negeri.
"Kalau menurut saya barangkali karena diversifikasi pasar ekspor kita sudah banyak termasuk di Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika. Mudah-mudahan kalau barang-barang yang mau dijual ke Amerika tidak terserap bisa dilempar ke pasar lain," katanya.
Meski sudah banyak diversifikasi pasar tujuan ekspor, tetap saja tidak bisa mengkompensasi pasar AS yang sangat besar. Akibatnya, risiko Indonesia terseret resesi AS masih cukup besar.
Target Pertumbuhan Investasi Turun
Akibat rentetan resesi ini, target pertumbuhan investasi tahun depan pun harus dikoreksi. Karena sebagian besar investor yang menanamkan modal di Indonesia adalah dari AS dan Jepang.
"Yang jelas target yang sudah kita siapkan di Rencana Kerja Pemerintah, pasti akan terkoreksi. Kalau BKPM memprediksi penurunan investasi menjadi 12% saya rasa itu masih masuk akal," katanya. (lih/ir)











































