"Kalau opsinya cuma penyertaan modal, pasti dia akan meminta modal terus, karena gak sehat," ujar Sekretaris Menneg BUMN M Said Didu di kantornya, Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (26/9/2008).
Modal dari pemerintah itu antara lain digunakan untuk membiayai listrik yang disuplai perusahaan swasta. Semen Kupang tidak memperoleh pasokan listrik dari PLN karena pasokan listrik memang sangat terbatas. Pilihannya terbagi antara dua, listrik PLN untuk warga atau untuk Semen Kupang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Said ada 2 kriteria untuk BUMN yang tidak sehat, yang pertama tidak feasible, kalau tidak feasible opsinya bisa dilikuidasi atau merger. Dan yang kedua tidak bankable, kalau tidak bankable masuk ke PT Perusahaan Pengelola Aset untuk diurus.
"Semen Kupang ini berada di tengah-tengah, jadi dibilang tidak bankable nggak, dibilang tidak feasible tidak," ujarnya.
Untuk menyehatkan perusahaan, Kementerian BUMN mendorong penjualan 30% saham yang dimiliki Bank Mandiri di Semen Kupang kepada investor asal India.
Sebelumnya, kepemilikan mayoritas Semen Kupang dipegang oleh PT Semen Gresik. Awalnya Mandiri mengambil alih kepemilikan mayoritas produsen semen plat merah tersebut dari Semen Gresik adalah untuk menyuntikan dana demi kelangsungan perusahaan. (ang/ddn)











































