BUMN Karya Diciutkan Jadi 6 Perusahaan

BUMN Karya Diciutkan Jadi 6 Perusahaan

- detikFinance
Sabtu, 27 Sep 2008 09:30 WIB
BUMN Karya Diciutkan Jadi 6 Perusahaan
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana menciutkan jumlah BUMN Karya (infrastruktrur) hingga tersisa enam perusahaan saja. Rencana tersebut adalah salah satu upaya untuk menuju tahun 2009 tanpa BUMN rugi.
 
"Jadi untuk BUMN Karya nantinya tidak akan dibuat holding tapi melalui merger dan akuisisi sehingga hanya tersisa enam BUMN Karya saja. Jadi BUMN Karya yang kinerjanya kurang bagus bisa diambil oleh yang lebih besar sehingga diharapkan bisa lebih maju," kata Sekretaris Kementrian BUMN M Said Didu, di Gedung Garuda, Jakarta, Jumat (26/8/2008).
 
Selain itu, rencana penciutan BUMN Karya tersebut dilakukan dalam rangka menghindari persaingan antar BUMN ketika memasuki pasar internasional.
 
"Nantinya masing-masing akan menjadi general kontraktor di setiap sektor infrastruktur," katanya.
 
Ia mengatakan, nantinya enam BUMN Karya yang tersisa akan khusus menangani sektor konstruksi basah, konstruksi gedung, konstruksi baja, serta konstruksi jalan dan jembatan. Dengan berkonsentrasi kepada tiap sektor infrastruktur tersebut, pemerintah menargetkan BUMN karya bakal go international pada tahun 2010.
 
Holding Farmasi
 
Sementara itu, mengenai rencana pembuatan induk usaha alias holding BUMN Farmasi, ia mengatakan rencana tersebut masih belum jelas. "Kami masih harus banyak berhubungan dengan Depkes dulu, jadi belum tahu pastinya seperti apa," ujarnya.
 
Saat ini, ada tiga BUMN farmasi yang dikelola pemerintah yaitu PT Bio Farma, PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. Dua perusahaan plat merah yang terakhir tersebut merupakan perusahaan terbuka yang masuk lantai bursa.
 
Namun Said mengatakan, yang paling bisa dilakukan untuk menyatukan BUMN tersebut agar bisa bersinergi adalah dengan menggabungkan jalur distribusinya.

"Daripada menunggu holding terlalu lama, satukan saja distribusinya dengan begitu pasti banyak efisiensi yang didapat. Selama ini kan masih masing-masing jadi agak repot dan banyak inefisiensi," imbuhnya. (ang/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads