Seperti di kios Hasan, Jalan Cilentah Dalam, elpiji 12 kg dijual Rp 110 ribu. Sementara kios Heni, di Jalan Pasundan dijual berkisar Rp 110 hingga Rp 115 ribu. Menurut para pedagang kenaikan harga ini sudah terjadi sepekan.
"Harga mulai merangkak naik mulai dari Rp 90 ribu hingga sekarang ini Rp 115 ribu," ujar Heni, Senin (29/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Euis (63), pedagang gas di Lembang, yang juga antre di Limas Raga Inti membawa 7 buah tabung untuk dijual lagi. "Di Lembang sudah tak ada yang jual gas, saya menjual Rp 90 ribu. Mungkin harganya akan naik lagi," ujarnya yang terpaksa menginap sejak semalam di halaman Limas Raga Inti. Euis baru memperoleh elpiji pukul 12.30 WIB.
Kepala pemasaran PT Limas Raga Inti Yono Syarief mengatakan pihaknya tetap menjual elpiji 12 kg dengan harga Rp 69 ribu. "Saya tidak tahu kalau harga di pasaran bisa mencapai di atas 100 ribu. Tapi memang sekarang ini sulit, karena pasokan dari Pertaminanya terhambat. Kalau ada, kita langsung jual," jelasnya.
Hari ini, ada enam truk uang mengangkut elpiji 12 kg. Tiga truk berkapasitas 156 tabung, dua truk 280 tabung dan satu truk berkapasitas 252 tabung. Hanya dalam sekejap, truk kapasitas 280 langsung ludes diserbu pembeli yang antre.
Pantauan detikbandung, antrean terjadi di dalam halaman PT Limas Raga Inti. Terlihat banyak calo yang beroperasi. Dengan adanya batasan pembelian 1 tabung buat satu orang, membuat para pembeli memanfaatkan jasa calo.
"Kita sulit berantas calo, kita tidak bisa apa-apa. Kami sudah batasi pembelian hingga penyelupan tinta, tapi tetap ada," jawabnya saat ditanya mengenai maraknya calo.
(ern/ddn)










































