Selamatkah AS dari Resesi?

Selamatkah AS dari Resesi?

- detikFinance
Sabtu, 04 Okt 2008 14:20 WIB
Selamatkah AS dari Resesi?
Washington - Rencana bailout besar-besaran sudah disetujui dan diteken oleh Presiden George Walker Bush. Semua perhatian kini beralih ke perekonomian AS, bisa kah selamat dari jurang resesi?

Seperti diketahui, DPR AS pada Jumat (3/10/2008) telah menyetujui UU Penyelamatan Ekonomi Darurat melalui bailout terbesar hingga US$ 700 miliar. BLBI ala AS itu pun langsung diteken oleh presiden Bush hanya beberapa saat setelah disetujui DPR AS melalui voting 263 lawan 171.

Rencana itu memang tak langsung ditelan mentah-mentah pada investor sebagai berita yang baik. Bahkan pada perdagangan Jumat (3/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 156,51 poin (1,49%) ke level 10.326,34. Nasdaq juga melemah 29,33 poin (1,48%) ke level 1.947,39 dan S&P 500 turun 14,85 poin (1,33%) ke level 1.099,43.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal beberapa saat setelah dibuka, saham-saham di Wall Street sempat menguat, setelah Wells Fargo mengumumkan rencana membeli Wachovia senilai US$ 15,1 miliar. Sementara AIG mengumumkan rencana menjual aset demi membayar utang dana talangan dari The Fed.

Diawal perdagangan indeks Dow Jones sempat menguat 108,32 poin (1,03%) ke level 10.591,17. Nasdaq juga menguat 33,21 poin (1,68%) ke level 2.009,93 dan S&P 500 naik 18,64 poin (1,67%) ke level 1.132,92.

"(UU) Ini mungkin datang sedikit terlambat. Jika saja UU ini hadir lebih awal, kemungkinan kita akan melihat dampak yang lebih besar dalam memulihkan kepercayaan," kata Anna Piretti, ekonom dari BNP Paribas, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (4/10/2008).

Menteri Keuangan Henry Paulson yang bekerja sangat keras membuat UU tersebut, sekaligus melobi agar rencana itu dikabulkan, menyatakan akan segera bergerak cepat untuk membeli aset-aset bermasalah di lembaga-lembaga keuangan.

"Kita telah menunjukkankepada dunia bahwa AS akan menstabilkan pasar finansialnya serta tetap menjadi pemimpin dalam perekonomian global," ujar Presiden Bush yang berpidato, beberapa saat setelah kongres menyetujui rencana tersebut.

Namun para analis tidak langsung percaya bahwa begitu UU itu diterapkan, perekonomian AS bakal langsung pulih dan stabilitas bisa dicapai.

"Ada banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Bahkan kalaupun perbankan berpartisipasi, bagaimana  kemampuan mereka untuk memberikan pinjaman baru kepada perekonomian jika mereka tidak dapat melepaskan yang macet?" ujar David Kelly, chief market strategist dari JPMorgan Asset Management.

Presiden Bush sendiri mengakui bahwa ekonomi AS tidak akan pulih dengan cepat meski UU ini sudah diteken.

"(UU) Ini akan kita terapkan sebisa mungkin, namun tidak dapat berfungsi secara sempurna dalam satu malam. Perlu waktu beberapa saat untuk mendesain program yang efektif untuk mencapai tujuan dan tidak membuang-buang dolar milik pembayar pajak," ujar Bush.

DPR AS pun kini menunggu bagaimana reaksi setelah UU tersebut ditandatangani oleh Bush. Namun mereka meyakini, kehadiran UU Bailout itu akan membantu memulihkan kepercayaan pasar.

"Saya sangat berharap bahwa kita telah menempuh jalan panjang untuk memulihkan kepercayaan di pasar," kata anggota DPR dari Demokrat, James Clyburn seperti dikutip dari AFP.

"Rencana bailout besar-besaran itu memang akan meredakan ketegangan di pasar finansial AS dalam beberapa pekan terakhir. Namun sangat naif untuk mengasumsikan bahwa ketentuan baru ini sendiri akan menjadi obat mujarab untuk perekonomian. Perekonomian masih berada ditengah-tengah resesi," ujar Brian Bethune, ekonom dari Global Insight.

Bank Sentral Berperan

Bank Sentral AS (Federal Reserve) selanjutnya akan memainkan peran kunci dalam upaya penyelamatan perekonomian bernilai US$ 700 miliar itu.

Dalam UU setelah 451 halaman itu, The Fed diperbolehkan untuk membayar bunga dari simpanan wajib bank-bank di bank sentral tersebut. The Fed akan memberikan rincian dari aturan ini pada pekan depan.

Perbankan akan diwajibkan untuk memenuhi reserve requirement atau giro wajib sesuai UU tersebut. Namun karena mereka selama ini tidak mendapat bunga dari simpanan di bank sentral, maka mereka memiliki insentif untuk meminjamkan setiap kelebihan uangnya di pasar terbuka, yang selanjutnya menekan tingkat suku bunga menjadi lebih rendah.

Dengan kemampuan untuk membayar bunga simpanan perbankan, maka the Fed dapat memberikannya di bawah tingkat suku bunga overnight patokan yang saat ini sebesar 2%. Perbankan akan menempatkan kelebihan dananya ke Bank Sentral setiap saat ketika suku bunga dibawah yang bisa dibayarkan oleh The Fed. (qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads