Hal tersebut disampaikan Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Hanung Budya disela Halal Bihalal di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Perwira, Jakarta, Senin (6/10/2008).
"Target 20 juta itu rasanya sulit kita capai. Untuk sampai 15 juta saja sudah sangat bagus," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daerah yang kemungkinan terlambat program konversinya adalah daerah di Jawa Bagian Timur dan Jawa Bagian Tengah.
Menurut Hanung, kendala utama pembagian paket konversi ada dua, yaitu pengadaan tabung elpiji 3 kg dan pembangunan Stasiun Pengisi Bahan Bakar Elpiji (SPBBE).
Pengadaan tabung elpiji 3 kg diakui Hanung sangat sulit karena kapasitas produksi dalam negeri dan luar negeri yang sudah penuh terkontrak.
Untuk memenuhi target konversi 20 juta paket untuk 20 juta KK maka dibutuhkan sekitar 40 juta tabung. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kapasitas produksi nasional hanya 25 juta tabung per tahun.
Sebenarnya Pertamina juga mengantongi ijin impor tabung sebanyak 6 juta tabung pada 2008, namun Hanung menyatakan sulit menggunakan ijin tersebut karena kapasitas produsen luar negeri yang juga terbatas.
Hingga saat ini, impor yang sudah datang baru dari China sebesar 1 juta tabung, dan 1,3 juta tabung sedang dalam proses.
Selain tabung, pembangunan SPBBE juga menjadi sandungan karena masalah perijinan dari pemerintah daerah yang sulit. "Padahal SPBBE itu kan prasyarat agar konversi bisa jalan," ujarnya. (lih/ddn)










































