Demikian disampaikan Dirut Pertamina Ari Soemarno dalam keterangan pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (6/10/2008).
"Proyek Pertamina belum mengandalkan dana dari AS, kita kan investornya dari Jepang dan Timteng, belum bicara dana dari AS. Jadi kita relatif aman," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidak melihat pengaruh yang signifikan, hanya saja perlu koordinasi erat dengan pemerintah soal pengadaan valuta asing untuk impor BBM dan minyak mentah," katanya.
Pertamina mengkhawatirkan krisis AS akan berdampak pada nilai tukar dolar maupun rupiah. Sehingga berdampak pada seberapa banyak jumlah dana yang harus disediakan untuk mengimpor BBM dan minyak mentah.
Kebutuhan valuta asing Pertamina sendiri mencapai sekitar US$ 70 juta per hari. Untuk pemenuhan kebutuhan valas tersebut, Pertamina akan berkoordinasi dengan pemerintah dan Bank Indonesia.
Â
Namun Pertamina khawatir krisis di AS akan menurunkan permintaan dari pasar negara adidaya tersebut, sehingga kegiatan di Jepang dan China yang merupakan supplier AS juga akan menurun.
Â
Dengan kegiatan yang menurun, maka kebutuhan energi di Jepang dan China juga menurun. Efek domino terhadap perekonomian kedua negara Asia itu pun bisa terasa.
Â
"Itulah yang kita khawatirkan kalau sampai terjadi resesi. Sehingga bisa terjadi efek domino," ujarnya.
(lih/qom)











































